“Empat pilar yang menopang kebangsaan kita ini tidak boleh ada yang runtuh satu pun. Empat pilar ini harus sama-sama kokoh,” ujarnya.

Ainul mengibaratkan empat pilar tersebut seperti penyangga sebuah rumah. Ketika salah satu penopang melemah, kekuatan bangunan secara keseluruhan ikut terpengaruh.

Karena itu, ia menilai pemahaman mengenai kebangsaan tidak seharusnya berhenti di ruang diskusi. Nilai-nilai tersebut perlu diterjemahkan ke dalam sikap dan perilaku sehari-hari.

Persoalan yang dihadapi generasi muda saat ini, lanjut Ainul, juga semakin kompleks. Kemajuan teknologi membuka ruang yang luas, tetapi pada saat bersamaan menghadirkan persoalan seperti misinformasi, intoleransi, lemahnya penghayatan keagamaan, kurangnya perhatian terhadap kepentingan daerah, hingga fanatisme kedaerahan.

“Di era digitalisasi, banyak tantangan-tantangan baru yang harus kita respons semaksimal mungkin sebagai generasi muda,” katanya.

ADVERTISEMENT

Menurut dia, perubahan juga datang dari luar melalui arus globalisasi. Pertukaran budaya, kompetisi antarnegara, serta berbagai pengaruh eksternal terhadap kebijakan nasional menjadi bagian dari dinamika yang harus dihadapi.

Dalam situasi tersebut, Empat Pilar Kebangsaan dinilai dapat menjadi pijakan agar generasi muda tidak kehilangan arah ketika berhadapan dengan berbagai perubahan.

Ainul juga menempatkan Pancasila sebagai fondasi dalam menentukan arah kehidupan bernegara. Menurutnya, dasar negara tersebut lahir melalui proses pemikiran dan pembahasan panjang para pendiri bangsa.