MADURA SATU | MAKKAH - Menjelang puncak ibadah haji di Armuzna atau Arafah, Muzdalifah, dan Mina, ribuan jamaah haji mulai mempersiapkan diri secara fisik maupun batin.

Di tengah suasana religius tersebut, seorang jamaah asal Indonesia bernama Taufadi mengaku menjalani hari-hari penuh renungan, doa, dan kepasrahan menjelang keberangkatan menuju Arafah pada 8 Dzulhijjah 1447 Hijriah atau Senin, 25 Mei 2026.

Taufadi tergabung dalam Kloter SUB-74 yang dijadwalkan berangkat menuju Arafah pada sore hari. Kloter tersebut menjadi salah satu rombongan terakhir di sektor 4 yang diperkirakan menjalani proses murur di Muzdalifah sebelum melanjutkan perjalanan menuju Mina.

Bagi Taufadi, perjalanan menuju Armuzna bukan sekadar perpindahan lokasi ibadah, melainkan perjalanan spiritual yang menguji kesabaran, keikhlasan, dan kekuatan hati setiap jamaah haji.

Di tengah keterbatasan aktivitas menjelang Armuzna, para jamaah lebih banyak menghabiskan waktu dengan memperbanyak ibadah di hotel maupun masjid sekitar.

ADVERTISEMENT

Suasana di pemondokan dipenuhi lantunan ayat suci Al-Qur’an, istighasah, tahlil, yasinan, hingga doa bersama yang berlangsung hampir setiap waktu.

“Di sini suasananya benar-benar berbeda. Semua orang seperti sedang mempersiapkan diri lahir dan batin untuk menghadapi puncak ibadah haji,” ungkap Taufadi dalam catatan perjalanannya.

Ia mengaku mulai merasakan getaran batin yang kuat setelah mendengarkan pembekalan dari pembimbing ibadah, Alwi Beiq, terkait kondisi Armuzna yang dikenal sangat padat dan penuh tantangan.

“Ketika mendengar penjelasan tentang perjalanan dari hotel ke Arafah, proses murur di Muzdalifah, kemungkinan berjalan kaki menuju Mina, hingga pelaksanaan tawaf dan sa’i ifadah, saya merasa hati ini bergetar dan muncul rasa cemas,” katanya.

Menurut Taufadi, penjelasan tersebut membuat dirinya semakin sadar bahwa ibadah haji bukan hanya tentang kesiapan fisik, melainkan juga kesiapan mental dan spiritual dalam menghadapi segala kemungkinan di Tanah Suci.

ADVERTISEMENT

“Penjelasan itu terasa merinding dan membuat saya banyak merenung. Saya sadar bahwa di titik ini manusia benar-benar hanya bisa bergantung kepada Allah SWT,” ujarnya.

Kecemasan yang dirasakan Taufadi semakin terasa ketika istrinya, Hj. Ansari, yang pernah menjadi pengawas haji Komisi VIII pada 2025, mengingatkan agar dirinya lebih banyak beristighfar dan memperkuat doa selama menjalani rangkaian Armuzna.

“Saat itu istri saya berbisik agar saya memperbanyak istighfar dan jangan merasa tenang-tenang saja. Kalimat itu terus terngiang di kepala saya,” katanya.

Meski pernah menunaikan ibadah haji menggunakan visa Furoda pada 2019, Taufadi menilai pengalaman kali ini memberikan pelajaran spiritual yang jauh lebih mendalam.

Ia merasa perjalanan haji reguler mengajarkannya tentang kesabaran, kebersamaan, dan kepasrahan dalam menghadapi situasi yang tidak selalu mudah.

ADVERTISEMENT

Di tengah persiapan menuju lempar jumrah dan tawaf ifadah, Taufadi bersama keluarganya mulai menyusun berbagai langkah agar ibadah dapat dijalani dengan aman dan lancar.

Namun di balik seluruh ikhtiar tersebut, ia mengaku terus berusaha menyerahkan semuanya kepada kehendak Allah SWT.

“Armuzna ini membuat saya sadar bahwa manusia hanya bisa berusaha, sedangkan hasil akhirnya tetap Allah yang menentukan,” tuturnya.

Menurutnya, fase Armuzna merupakan momen paling sakral dalam ibadah haji karena seluruh jamaah berkumpul dengan satu tujuan yang sama, yakni memohon ampunan dan berharap menjadi haji yang mabrur.

“Kadang sesuatu yang terlihat mudah bisa menjadi sulit, dan yang terlihat sulit justru dimudahkan Allah. Di situlah kami belajar tentang tawakal,” ucapnya.

ADVERTISEMENT

Menjelang keberangkatan menuju Arafah, satu doa yang paling membekas di hati Taufadi adalah pesan penutup dari pembimbing ibadahnya, Alwi Beiq, yang terus diulang dalam setiap munajat.

“Ya Allah, entaskanlah hamba, orang tua hamba, istri atau suami hamba, mertua hamba, serta anak-cucu hamba dari api neraka,” kata Taufadi menirukan doa tersebut dengan suara lirih.

Kini, di tengah jutaan jamaah dari berbagai negara yang bersiap menuju Arafah, Taufadi hanya berharap seluruh perjalanan spiritualnya di Tanah Suci diberi kemudahan, keselamatan, dan keberkahan hingga kembali ke tanah air.(*)