“Ketika mendengar penjelasan tentang perjalanan dari hotel ke Arafah, proses murur di Muzdalifah, kemungkinan berjalan kaki menuju Mina, hingga pelaksanaan tawaf dan sa’i ifadah, saya merasa hati ini bergetar dan muncul rasa cemas,” katanya.

Menurut Taufadi, penjelasan tersebut membuat dirinya semakin sadar bahwa ibadah haji bukan hanya tentang kesiapan fisik, melainkan juga kesiapan mental dan spiritual dalam menghadapi segala kemungkinan di Tanah Suci.

“Penjelasan itu terasa merinding dan membuat saya banyak merenung. Saya sadar bahwa di titik ini manusia benar-benar hanya bisa bergantung kepada Allah SWT,” ujarnya.

Kecemasan yang dirasakan Taufadi semakin terasa ketika istrinya, Hj. Ansari, yang pernah menjadi pengawas haji Komisi VIII pada 2025, mengingatkan agar dirinya lebih banyak beristighfar dan memperkuat doa selama menjalani rangkaian Armuzna.

“Saat itu istri saya berbisik agar saya memperbanyak istighfar dan jangan merasa tenang-tenang saja. Kalimat itu terus terngiang di kepala saya,” katanya.

ADVERTISEMENT

Meski pernah menunaikan ibadah haji menggunakan visa Furoda pada 2019, Taufadi menilai pengalaman kali ini memberikan pelajaran spiritual yang jauh lebih mendalam.

Ia merasa perjalanan haji reguler mengajarkannya tentang kesabaran, kebersamaan, dan kepasrahan dalam menghadapi situasi yang tidak selalu mudah.

Di tengah persiapan menuju lempar jumrah dan tawaf ifadah, Taufadi bersama keluarganya mulai menyusun berbagai langkah agar ibadah dapat dijalani dengan aman dan lancar.