“Permainan tradisional sebenarnya dapat menjadi media pembelajaran berpikir terstruktur sebelum anak-anak mengenal bahasa pemrograman komputer,” katanya.

Tak hanya itu, Zayyadi menilai penguatan karakter siswa perlu dilakukan melalui budaya bahasa santun Madura atau “ondheghe bahsa”, seperti penggunaan istilah “Engghi-Bhenten” dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan tersebut dinilai sejalan dengan program nasional “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat”.

“Nilai-nilai budaya lokal dapat menjadi instrumen efektif dalam membentuk karakter siswa yang beretika, disiplin, dan menghormati sesama,” ungkap doktor muda tersebut.

Dalam aspek digitalisasi pendidikan, FKIP UNIRA juga mengusulkan pengembangan cerita rakyat Madura menjadi media pembelajaran berbasis digital, mulai dari animasi hingga game edukatif.

Langkah itu dinilai mampu meningkatkan kreativitas sekaligus literasi teknologi siswa di era digital. Selain fokus pada siswa, perhatian juga diarahkan pada peningkatan kualitas tenaga pendidik.

ADVERTISEMENT

Zayyadi mengusulkan adanya Uji Kompetensi Berbahasa Madura (UKBM) bagi guru sebagai instrumen evaluasi formal yang ilmiah dan terstandar.

“Dalam persoalan linieritas guru muatan lokal, kami mendorong adanya jalur afirmasi dan rekognisi bagi guru non-linier yang selama ini mengajar Bahasa Madura,” tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, FKIP Universitas Madura juga mengajukan pembukaan nomenklatur khusus Bahasa Madura agar perguruan tinggi di Madura dapat membuka Program Studi Pendidikan Bahasa Madura secara resmi.