MADURA SATU | PAMEKASAN – Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Timur XI Madura, Hj Ansari, menegaskan bahwa kemajuan suatu daerah tidak dapat hanya diukur dari pembangunan fisik semata.

Menurutnya, investasi terbesar yang harus dilakukan adalah membangun sumber daya manusia (SDM) yang berkarakter, berintegritas, serta memiliki kepedulian terhadap daerahnya.

Pernyataan tersebut disampaikan Hj Ansari saat menjadi keynote speaker dalam Sarasehan Literasi dan Kajian Buku Pamekasan Mencari Identitas yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Pamekasan (AJP) dalam rangka memperingati Hari Lahir ke-60 Universitas Islam Negeri (UIN) Madura, Senin (27/7/2026).

Dalam paparannya, Ansari menilai pembangunan infrastruktur memang penting, namun tidak akan memberikan dampak jangka panjang apabila tidak diiringi peningkatan kualitas manusianya.

"Pembangunan bukan hanya gedung atau jalan. Yang tidak boleh hilang adalah ingatan generasi muda terhadap jati diri daerahnya. Karena membangun manusia berarti membangun cara berpikir, kecintaan terhadap ilmu, integritas, dan kepedulian terhadap daerah," ujar Ansari.

ADVERTISEMENT

Ia menilai Pamekasan memiliki modal besar untuk berkembang menjadi daerah yang lebih maju. Selain dikenal sebagai kota pendidikan dengan ratusan pondok pesantren dan ribuan lembaga pendidikan Islam, daerah ini juga memiliki potensi ekonomi yang kuat dari sektor pertanian, khususnya komoditas tembakau dan garam.

Mengacu pada data Kementerian Agama, Ansari menyebut Kabupaten Pamekasan memiliki sekitar 426 pondok pesantren, 1.706 madrasah, serta lebih dari 2.000 lembaga pendidikan Al-Qur'an.

Sementara di sektor ekonomi, Madura dikenal sebagai salah satu penyumbang cukai terbesar di Indonesia dengan komoditas unggulan tembakau, di samping garam yang menjadi kekuatan ekonomi masyarakat.

"Potensi sumber daya alam kita luar biasa. Namun pembangunan tidak cukup berhenti di situ. Yang harus dijaga adalah identitas daerah melalui pembangunan manusianya," tegasnya.

Menurut Ansari, peluncuran buku Pamekasan Mencari Identitas menjadi momentum penting untuk memperkuat budaya literasi sekaligus menumbuhkan kesadaran generasi muda terhadap sejarah, budaya, dan jati diri daerah.

ADVERTISEMENT

"Generasi Emas 2045 membutuhkan generasi yang cerdas, berilmu, dan berakhlakul karimah. Karena itu, literasi harus melahirkan gagasan, penelitian, dan karya yang memberi manfaat bagi masyarakat," katanya.

Sebagai alumnus UIN Madura, Ansari mengaku memiliki ikatan emosional yang kuat dengan kampus tersebut. Bahkan hingga saat ini dirinya masih tercatat sebagai mahasiswi di UIN Madura.

Ia mengenang perjalanan akademiknya ketika kampus tersebut masih bernama Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pamekasan.

Menurutnya, kampus bukan hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga membentuk karakter, mengajarkan toleransi, serta menanamkan semangat pengabdian kepada masyarakat.

"Saya ditempa di kampus ini untuk belajar ilmu pengetahuan, belajar menghargai perbedaan, dan belajar terjun langsung ke tengah masyarakat. Ilmu yang saya dapatkan menjadi bekal dalam menjalankan pengabdian kepada masyarakat hingga hari ini," ungkapnya.

ADVERTISEMENT

Ansari juga membagikan kisah perjalanan hidupnya semasa kuliah. Ia mengaku dipertemukan dengan H. Taufadi, rekan satu angkatan yang kini menjadi suaminya sekaligus menjabat Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Pamekasan.

Sebelum dipercaya menjadi anggota DPR RI melalui Pemilu 2024, Ansari mengabdikan diri sebagai guru taman kanak-kanak selama 17 tahun di Kabupaten Pamekasan.

Pengalaman panjang sebagai pendidik itu, menurutnya, semakin menguatkan keyakinan bahwa pembangunan manusia merupakan investasi paling berharga bagi masa depan bangsa.

Di akhir pemaparannya, Ansari berharap UIN Madura terus melahirkan akademisi, peneliti, ulama, politisi, dan pemimpin bangsa yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Ia juga mendorong agar kampus memperkuat kolaborasi dengan media sebagai bagian dari upaya membangun budaya literasi.

ADVERTISEMENT

"Saya berharap UIN Madura terus berkolaborasi dengan media. Pamekasan jangan hanya mencatat sejarah, tetapi juga mampu meninggalkan sejarah melalui gagasan, penelitian, dan karya-karya yang bermanfaat," tuturnya.

Ansari berharap Sarasehan Literasi tidak berhenti sebagai forum diskusi semata, melainkan menjadi ruang yang melahirkan peneliti baru, karya ilmiah, buku-buku berkualitas, serta berbagai gagasan yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan Kabupaten Pamekasan dan Madura secara umum.

Kegiatan tersebut dihadiri Bupati Pamekasan Kholilurrahman, Wakil Ketua DPRD Pamekasan Ismail, Rektor UIN Madura Saiful Hadi, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), pimpinan perguruan tinggi se-Madura, Senat UIN Madura, Sekretaris Daerah Pamekasan, Direktur Utama PT GSM Tamsul, Ketua Aliansi Jurnalis Pamekasan (AJP) Sulaisi, serta akademisi, mahasiswa, dan pegiat literasi. (*)