"Potensi sumber daya alam kita luar biasa. Namun pembangunan tidak cukup berhenti di situ. Yang harus dijaga adalah identitas daerah melalui pembangunan manusianya," tegasnya.

Menurut Ansari, peluncuran buku Pamekasan Mencari Identitas menjadi momentum penting untuk memperkuat budaya literasi sekaligus menumbuhkan kesadaran generasi muda terhadap sejarah, budaya, dan jati diri daerah.

"Generasi Emas 2045 membutuhkan generasi yang cerdas, berilmu, dan berakhlakul karimah. Karena itu, literasi harus melahirkan gagasan, penelitian, dan karya yang memberi manfaat bagi masyarakat," katanya.

Sebagai alumnus UIN Madura, Ansari mengaku memiliki ikatan emosional yang kuat dengan kampus tersebut. Bahkan hingga saat ini dirinya masih tercatat sebagai mahasiswi di UIN Madura.

Ia mengenang perjalanan akademiknya ketika kampus tersebut masih bernama Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pamekasan.

ADVERTISEMENT

Menurutnya, kampus bukan hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga membentuk karakter, mengajarkan toleransi, serta menanamkan semangat pengabdian kepada masyarakat.

"Saya ditempa di kampus ini untuk belajar ilmu pengetahuan, belajar menghargai perbedaan, dan belajar terjun langsung ke tengah masyarakat. Ilmu yang saya dapatkan menjadi bekal dalam menjalankan pengabdian kepada masyarakat hingga hari ini," ungkapnya.

Ansari juga membagikan kisah perjalanan hidupnya semasa kuliah. Ia mengaku dipertemukan dengan H. Taufadi, rekan satu angkatan yang kini menjadi suaminya sekaligus menjabat Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Pamekasan.