“Pamekasan menjadi salah satu dari 45 kabupaten/kota yang masuk nominasi untuk mengembangkan pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular,” ujar Kholilurrahman.

Ia menjelaskan, keikutsertaan dalam program tersebut merupakan langkah strategis untuk menjawab tantangan fiskal daerah. Terutama di tengah tren penurunan Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD).

“Ini adalah respons cerdas dalam menghadapi keterbatasan anggaran, sehingga pembangunan tetap berjalan tanpa bergantung sepenuhnya pada APBD,” tegasnya.

Menurutnya, pendekatan creative financing menjadi solusi alternatif yang kini ditempuh Pemkab Pamekasan.

Dengan skema ini, pemerintah daerah membuka peluang pendanaan eksternal serta dukungan teknis internasional.

ADVERTISEMENT

“Melalui LSDP, kami mencoba memanfaatkan dukungan dari World Bank yang difasilitasi Kemendagri untuk memperkuat infrastruktur layanan publik,” jelasnya.

Tak hanya fokus pada pengelolaan sampah, dalam audiensi tersebut juga dibahas penguatan program Wefsrid (Water Energy Food Security for Regional Integrated Development). Program ini diarahkan untuk memperkuat ketahanan air, energi, dan pangan di daerah.

“Sinergi antara LSDP dan Wefsrid menjadi langkah konkret kami dalam membangun sistem yang terintegrasi dan berkelanjutan,” imbuhnya.