MADURA SATU | SAMPANG - Penyaluran program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Somber, Kecamatan Tambelangan, Kabupaten Sampang menjadi sorotan publik. 

Distribusi makanan kepada penerima manfaat kelompok rentan diduga tidak sesuai prosedur setelah makanan dibagikan menggunakan bungkus kertas, bukan wadah food tray sebagaimana standar umum.

Program MBG tersebut menyasar kelompok B3, yakni balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. Dengan sasaran tersebut, aspek kebersihan dan keamanan makanan menjadi perhatian utama.

Namun, praktik distribusi menggunakan kertas memicu kekhawatiran warga terkait higienitas serta kualitas makanan yang diterima.

Penyaluran dilakukan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tambelangan Banjarbillah melalui kader Posyandu kepada penerima manfaat di Dusun Somber.

ADVERTISEMENT

Kondisi tersebut diketahui terjadi pada Sabtu (4/4/2026) dan mulai menjadi perbincangan warga sehari setelahnya.

Seorang penerima manfaat, Dewi, mengaku menerima paket MBG di rumahnya dalam bentuk bungkusan kertas. Ia menyebut makanan tersebut tidak menggunakan wadah khusus seperti ompreng.

“Iya mas, itu MBG untuk saya sebagai ibu menyusui. Saya terima di rumah sudah dibungkus kertas, bukan wadah ompreng. Yang mengantarkan kader Posyandu,” ujarnya.

Ia juga mengeluhkan porsi makanan yang dinilai terlalu sedikit untuk kebutuhan ibu menyusui. Menurutnya, isi paket hanya berupa nasi, lauk kecil, tempe orek, sayur, saus sachet, serta satu buah salak.

“Menunya sedikit sekali, seperti porsi anak kecil. Rasanya kurang untuk ibu menyusui,” keluhnya.

ADVERTISEMENT

Kader Posyandu Dusun Somber, Saroh, membenarkan bahwa sebagian paket MBG dibagikan dalam bungkus kertas. Ia menjelaskan hal itu dilakukan sebagai inisiatif karena kendala penggunaan wadah ompreng.

“Kalau dari dapur sebenarnya pakai ompreng. Tapi kami akali karena sulit pengembaliannya. Dari dapur juga tidak masalah selama diantar langsung ke rumah penerima,” katanya.

Saroh menambahkan, pihak dapur sebelumnya menyediakan wadah plastik transparan. Namun, sebagian wadah tidak kembali karena tertinggal di rumah penerima.

“Ada thinwall yang tidak terkumpul karena tertinggal di rumah penerima yang tidak ada orangnya. Akhirnya sebagian kami bungkus dengan kertas minyak,” jelasnya.

Ia juga menyebut penggunaan bungkus kertas dilakukan setelah adanya pembicaraan dengan pihak dapur. Kertas minyak dibeli secara mandiri oleh kader Posyandu.

ADVERTISEMENT

“Dari dapur memperbolehkan, asalkan kertasnya beli sendiri karena tidak disediakan,” imbuhnya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak dapur SPPG Tambelangan Banjarbillah belum memberikan keterangan resmi terkait polemik tersebut.

Upaya konfirmasi kepada Kepala SPPG, Lailatul Fitria, melalui pesan dan panggilan telepon belum mendapatkan tanggapan. Juenalis madurasatu.com masih berupaya melakukan konfirmasi lanjutan. (*)