MADURA SATU | PAMEKASAN - Program Makanan Bergizi (MBG) di Desa Lesong Daya, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, kembali menjadi sorotan publik setelah muncul berbagai keluhan terkait kualitas makanan yang dibagikan kepada siswa.

Keluhan tersebut mencuat pada Rabu (29/4/2025), ketika sejumlah wali murid dan tenaga pendidik menyampaikan protes terhadap menu yang disediakan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di bawah naungan Yayasan Rumah Inovasi Sejahtera.

Salah satu wali murid yang meminta identitasnya dirahasiakan mengungkapkan bahwa kondisi makanan yang diterima siswa kerap tidak layak dikonsumsi.

Ia menyebut masalah tersebut bukan terjadi sekali, melainkan sudah berulang kali.

“Keluhan dari pihak sekolah sudah sering terjadi karena makanan yang disediakan kurang layak dikonsumsi. Ini bukan kejadian pertama,” ujarnya.

ADVERTISEMENT

Ia menjelaskan, beberapa menu yang dibagikan bahkan ditemukan dalam kondisi tidak pantas, mulai dari wadah yang kurang higienis, aroma yang tidak sedap, hingga kualitas bahan makanan yang diragukan.

“Pernah ada menu ikan lele, tapi yang tersisa hanya tulangnya saja. Bahkan ada buah yang diduga terdapat ulat,” katanya dengan nada kecewa.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat sebagian siswa enggan mengonsumsi makanan yang diberikan, meskipun program MBG seharusnya bertujuan meningkatkan asupan gizi anak.

Keluhan serupa juga disampaikan oleh seorang guru di desa setempat. Ia menilai program tersebut belum berjalan optimal karena kualitas dan variasi menu yang kurang memadai.

“Banyak siswa yang tidak tertarik makan karena menunya kurang variatif dan kualitasnya kurang baik,” ungkapnya.

ADVERTISEMENT

Ia menambahkan, dalam beberapa kesempatan, menu yang disajikan cenderung monoton, seperti kombinasi telur, sayur, dan nasi, atau hanya berupa roti, susu, dan buah tanpa variasi yang cukup.

“Porsi dan jenis lauknya juga sering tidak sesuai harapan. Seharusnya program ini bisa lebih memperhatikan kebutuhan gizi siswa,” imbuhnya.

Menanggapi berbagai keluhan tersebut, Kepala SPPG, Novan, menyampaikan permohonan maaf kepada pihak sekolah dan wali murid.

Ia mengakui adanya kekurangan dalam pengawasan bahan baku yang digunakan.

“Nanti saya akan menelusuri ke supplier, kok bisa bahan bakunya jelek sampai diantarkan ke sini. Saya juga mengakui kurang teliti dalam mengecek bahan baku yang datang,” ujar Novan. (*)

ADVERTISEMENT