Keluhan serupa juga disampaikan oleh seorang guru di desa setempat. Ia menilai program tersebut belum berjalan optimal karena kualitas dan variasi menu yang kurang memadai.

“Banyak siswa yang tidak tertarik makan karena menunya kurang variatif dan kualitasnya kurang baik,” ungkapnya.

Ia menambahkan, dalam beberapa kesempatan, menu yang disajikan cenderung monoton, seperti kombinasi telur, sayur, dan nasi, atau hanya berupa roti, susu, dan buah tanpa variasi yang cukup.

“Porsi dan jenis lauknya juga sering tidak sesuai harapan. Seharusnya program ini bisa lebih memperhatikan kebutuhan gizi siswa,” imbuhnya.

Menanggapi berbagai keluhan tersebut, Kepala SPPG, Novan, menyampaikan permohonan maaf kepada pihak sekolah dan wali murid.

ADVERTISEMENT

Ia mengakui adanya kekurangan dalam pengawasan bahan baku yang digunakan.

“Nanti saya akan menelusuri ke supplier, kok bisa bahan bakunya jelek sampai diantarkan ke sini. Saya juga mengakui kurang teliti dalam mengecek bahan baku yang datang,” ujar Novan. (*)