Terkait lokasi acara, Bupati menyebut stadion atau area terbuka lebih memungkinkan dibandingkan kawasan Arek Lancor.

Selain keterbatasan lahan parkir, lokasi tersebut dinilai terlalu dekat dengan Masjid Agung dan berpotensi mengganggu lalu lintas serta aktivitas ibadah.

Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak larut dalam euforia berlebihan. Konsep acara akan diarahkan bernuansa religius dengan karakter khas Madura.

“Nanti bisa ada yel-yel secukupnya, lalu duduk tertib sesuai kelompok. Acara bisa dibuka dengan Al-Fatihah, pembacaan Al-Qur’an, dan sambutan. Kalau Valen diminta bernyanyi, silakan, tapi lagu yang menyentuh jiwa,” imbuhnya.

Meski demikian, Bupati menegaskan seluruh konsep tersebut masih akan dimatangkan melalui rapat lanjutan.

ADVERTISEMENT

Menurutnya, penyambutan Valen harus menjadi momentum kebanggaan daerah tanpa mengorbankan ketertiban sosial dan nilai keagamaan.

“Silakan datang dan menyambut, tapi tetap jaga kearifan lokal Pamekasan. Jangan euforia berlebihan,” pesannya.

Sementara itu, Wakil Bendahara Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pamekasan, K Mohammad Haidar Dardiri, menegaskan bahwa 11 rekomendasi terkait tata cara hiburan telah disepakati bersama dan tidak mengalami perubahan.