SURABAYA | MADURA SATU - Besarnya investasi belum cukup menjadi ukuran keberhasilan pembangunan industri. Masyarakat daerah juga perlu merasakan dampaknya, mulai dari terbukanya lapangan kerja hingga meningkatnya nilai ekonomi sumber daya alam yang diolah di dalam negeri.

Persoalan itu menjadi salah satu pembahasan dalam diskusi publik Gerakan Masyarakat Madani (GMM) bertajuk “2 Tahun Kepemimpinan Prabowo, Hilirisasi dan Masa Depan Industri Jawa Timur” di Surabaya, Sabtu (24/10/2026).

Akademisi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA), Hendra Sukmana, menilai Jawa Timur memiliki peluang besar untuk memperkuat industri nasional. Namun, peluang tersebut membutuhkan dukungan kebijakan daerah yang mampu menghubungkan aktivitas industri dengan kebutuhan masyarakat.

Hilirisasi, menurut Hendra, merupakan langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap penjualan bahan mentah. Kekayaan alam harus diolah agar menghasilkan nilai ekonomi yang lebih tinggi sebelum dipasarkan.

"Saya memandang hilirisasi salah satu Langkah strategis dalam memperkuat kemandirian ekonomi Indonesia," kata Hendra, Sabtu (24/10).

ADVERTISEMENT

Ia mengingatkan bahwa keberlanjutan kebijakan tersebut membutuhkan pengawasan agar keuntungan dari pengolahan sumber daya alam tidak hanya terkonsentrasi pada pelaku usaha. Masyarakat lokal juga harus memperoleh manfaat dari pemanfaatan kekayaan alam di wilayahnya.

"Kebijakan Prabowo ini perlu dikawal secara konsisten agar kekayaan sumber daya alam Jawa Timur mempunyai nilai tambah bagi Masyarakat," ujar Hendra.

Bagi Hendra, persoalan industri tidak bisa dilepaskan dari kemudahan akses transportasi. Kawasan produksi yang tidak terhubung dengan baik berpotensi menghadapi hambatan mobilitas tenaga kerja maupun distribusi barang.