Dialek Pamekasan dan Sumenep pada akhirnya bukan untuk dibandingkan mana yang lebih baik, melainkan untuk dipahami sebagai dua ekspresi budaya yang saling melengkapi. Keduanya tumbuh dari tanah yang sama, namun berkembang dengan warna yang berbeda.

Di sanalah letak kekuatan bahasa Madura bukan pada keseragaman, melainkan pada keberagaman yang tetap menyatu.(*)