Tesis:

Tellasan Topak adalah ungkapan kebahagiaan masyarakat Madura setelah menyelesaikan puasa Syawal selama enam hari. Masyarakat Madura memeriahkannya dengan tradisi guyub menganyam ketupat bersama di suatu tempat. Mereka kemudian saling bertukar makanan atau hidangan ketupat yang beragam.

Pertukaran masakan dilakukan dengan saling mengantar dari satu rumah ke rumah lain, serta disedekahkan ke masjid atau musala yang sedang melaksanakan doa bersama.

Bahkan ada pula yang membagikannya kepada masyarakat yang berkumpul untuk membaca surat Yasin dan tahlil sebagai doa keselamatan dan keamanan hidup.

Argumentasi:

ADVERTISEMENT

Salah satu warga Madura, tepatnya di Kabupaten Pamekasan, Kecamatan Pademawu, Desa Sentol, bernama Syaiful Anwar, menyatakan bahwa Tellasan Ketopak atau hari raya ketupat merupakan perayaan yang dilaksanakan tujuh hari setelah Hari Raya Idulfitri (yang disebut Tellasan Pasah).

Di Madura, Tellasan Ketopak menjadi ajang silaturahmi antar tetangga dengan membuat olahan beras bernama ketopak. Berbeda dengan lontong yang menggunakan daun pisang, ketopak dibungkus dengan anyaman daun kelapa muda (janur), dan sebagian masyarakat menggunakan daun siwalan (ta’al).

Dalam penyajiannya, ketopak biasanya disajikan bersama gado-gado, opor, soto, hingga bakso.

Tradisi ini dipercaya berasal dari ajaran Sunan Bonang pada abad ke-15 dan dibawa ke Madura oleh keturunan Sunan Kudus.

Secara umum, tradisi ini ditujukan untuk mempererat silaturahmi masyarakat. Dengan adanya Tellasan Ketopak, warga memasak dalam jumlah cukup banyak sehingga bisa dinikmati bersama.

ADVERTISEMENT

Pada hari pelaksanaannya, masyarakat juga mengadakan tasyakuran dengan iringan tahlil dan doa bersama. Karena itu, tradisi ini dianggap sangat penting dan sayang jika sampai ditinggalkan.

Puncak tradisi ini adalah kegiatan ter-ater, yaitu saling mengantar dan bertukar menu masakan ketupat (seperti soto, campor, atau kuah santan khas Madura) ke rumah kerabat dan tetangga.

Aktivitas ini menciptakan suasana guyub, memperkuat ikatan sosial, dan menjadi media berkumpul masyarakat sehingga menumbuhkan rasa solidaritas yang tinggi.

Secara filosofis, ketopak mengandung makna kehidupan bermasyarakat yang saling memperkuat satu sama lain, sebagaimana terlihat pada anyaman janur yang menjadi ciri khasnya.

Banyak anak muda pun senang dengan tradisi ini, karena mereka dapat belajar menjadi bagian dari masyarakat yang aktif dalam kegiatan gotong royong, terutama saat proses pembuatan ketupat.

ADVERTISEMENT

Kesimpulan:

Dengan demikian, Tellasan Topa’ adalah tradisi penting bagi masyarakat Madura yang memadukan ritual keagamaan dengan budaya lokal secara harmonis.

Meskipun terdapat perubahan pada aspek praktis pembuatan ketupat, nilai-nilai fundamental seperti silaturahmi, solidaritas, dan makna filosofis ketupat tetap terjaga sehingga menjadikannya warisan budaya yang berharga dan terus dilestarikan.

Penulis:

    ADVERTISEMENT

  • Nur Istiqomah Ramadhanti
  • Oktavian Ilham Ramadhani

    Mahasiswa Universitas Madura

  • Mahasiswa Universitas Madura