Tradisi ini dipercaya berasal dari ajaran Sunan Bonang pada abad ke-15 dan dibawa ke Madura oleh keturunan Sunan Kudus.

Secara umum, tradisi ini ditujukan untuk mempererat silaturahmi masyarakat. Dengan adanya Tellasan Ketopak, warga memasak dalam jumlah cukup banyak sehingga bisa dinikmati bersama.

Pada hari pelaksanaannya, masyarakat juga mengadakan tasyakuran dengan iringan tahlil dan doa bersama. Karena itu, tradisi ini dianggap sangat penting dan sayang jika sampai ditinggalkan.

Puncak tradisi ini adalah kegiatan ter-ater, yaitu saling mengantar dan bertukar menu masakan ketupat (seperti soto, campor, atau kuah santan khas Madura) ke rumah kerabat dan tetangga.

Aktivitas ini menciptakan suasana guyub, memperkuat ikatan sosial, dan menjadi media berkumpul masyarakat sehingga menumbuhkan rasa solidaritas yang tinggi.

ADVERTISEMENT

Secara filosofis, ketopak mengandung makna kehidupan bermasyarakat yang saling memperkuat satu sama lain, sebagaimana terlihat pada anyaman janur yang menjadi ciri khasnya.

Banyak anak muda pun senang dengan tradisi ini, karena mereka dapat belajar menjadi bagian dari masyarakat yang aktif dalam kegiatan gotong royong, terutama saat proses pembuatan ketupat.

Kesimpulan: