Semangatnya membara. Bahkan sebelum lulus kuliah, ia sudah menjadi guru honorer di berbagai sekolah dari Karangpenang, Camplong, Kadur, hingga Plakpak. Sore harinya, ia masih menyempatkan diri mengajar di lembaga bimbingan belajar SSC. Semua ia jalani demi satu tujuan: membantu orang tua dan membuktikan bahwa anak sulung dari enam bersaudara ini mampu mengangkat derajat keluarganya.

Namun badai datang setelah ia menikah dan dikaruniai dua anak. Pagi buta, ia harus bergegas mengikat anak di punggungnya dengan gendongan, sementara satu lagi di depan, lalu memacu motor menuju sekolah. Pemandangan itu menjadi rutinitas yang menguras hati dan tenaga.

Sang suami, Ak. Rifai, yang sering mendapati rumah dan anak-anak belum terurus sempurna, akhirnya sampai pada titik jenuh.

“Kalau kamu terus begini, sama saja aku seperti bujangan,”ucapnya kalimat yang begitu menusuk kalbu Laili.

Di persimpangan antara cita-cita dan kodrat sebagai istri, Laili memilih mengalah. Dengan berat hati, ia menanggalkan status guru dan sertifikasi yang telah ia raih dengan susah payah.

ADVERTISEMENT

“Ya sudah, Bismillah… nurut sama suami,”ujarnya pasrah.

Api yang Tak Pernah Padam

Meski kembali menjadi ibu rumah tangga seutuhnya, api dalam diri Laili tak pernah benar-benar padam. Ia tak gemar menonton sinetron atau bergosip dengan tetangga. Waktunya ia habiskan untuk membaca, menulis, dan mengasah kembali jiwa wirausaha yang telah tumbuh sejak masa kuliah.