Melihat semangat istrinya yang tak surut, sang suami pun luluh. Ia yang dulu memintanya berhenti, kini justru mendorong Laili untuk melanjutkan studi S2.

“Sudah, kuliah saja lagi biar ada kegiatan,”ujarnya penuh dukungan.

Dorongan itu menjadi bahan bakar baru. Atas saran suami pula, Laili melamar menjadi dosen di Universitas Madura pilihan ideal karena dekat dengan rumah. Namun ternyata, tugas dosen tak hanya mengajar, tetapi juga melakukan bimbingan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Dari Kelas ke Dunia Usaha

Jiwa wirausahanya kembali mekar. Pengalamannya menjual keripik, petis, hingga baju tanpa modal saat kuliah, kini ia kembangkan dalam skala lebih besar.

ADVERTISEMENT

Melihat kebutuhan seragam sekolah anaknya, ia mulai menjual baju muslim. Dari mulut ke mulut, pesanan mengalir deras bahkan setelah anaknya lulus dari sekolah tersebut. Tak berhenti di situ, ia merambah bisnis buku, alat tulis, hingga mencoba peruntungan menanam bawang.

“Saya ingin mengajarkan pada anak-anak, tidak selamanya fasilitas itu ada,”tegasnya.

Filosofi itu ia wariskan kepada anak-anaknya. Putra sulungnya yang masih duduk di kelas 1 SMP kini sudah memiliki tabungan dalam bentuk cincin emas, hasil disiplin menyisihkan uang jajannya sendiri.