Di balik sosoknya yang tenang sebagai dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Madura, Laili Amalia, M.Pd., menyimpan kisah perjalanan hidup yang ditempa oleh keterbatasan, pilihan sulit, dan semangat yang tak pernah padam. Ceritanya bukan sekadar tentang pencapaian akademis, melainkan tentang seorang perempuan yang mendefinisikan ulang arti perjuangan dari ruang kelas hingga usaha mandiri.

Inspirasi di Tengah Rasa Minder

Jauh sebelum gelar Magister Pendidikan tersemat di namanya, Laili adalah seorang gadis kecil dari Desa Sopak Ah, Pamekasan, yang sering merasa minder karena berasal dari keluarga sederhana. Namun, di bangku SD Lawangan Daya 2, secercah cahaya hadir melalui sosok gurunya, Ibu Lilis.

“Beliau itu cantik, baik, perhatian,” kenang Laili dengan tatapan menerawang. Di saat guru lain terkesan “killer”, Ibu Lilis justru merangkulnya dan menanamkan keyakinan bahwa ia mampu.

“Kamu itu bisa, Laili,”bisik kalimat penyemangat itu, yang kelak menjadi kompas hidupnya.

ADVERTISEMENT

Kecintaannya pada dunia kata tak berhenti di situ. Jemarinya lincah merangkai puisi dan cerpen, bahkan sempat memenangkan beberapa lomba. Di bangku SMA, cerita-cerita yang ia tulis tangan menjadi rebutan teman-temannya sampai ada yang sukarela mengetiknya dengan mesin ketik tua. Dari sanalah, Laili menyadari bahwa takdirnya telah terjalin erat dengan dunia pendidikan bahasa dan sastra.

Antara Cita-Cita dan Kodrat

Menjadi guru adalah pilihan sadar. Selain karena panggilan jiwa, profesi ini ia pandang sebagai jalan tengah untuk menjadi perempuan Madura yang bisa berkarier sekaligus mengabdi pada keluarga.