Tesis:

Di tengah masyarakat Madura, tepatnya di Kabupaten Pamekasan, Kecamatan Pademawu, Desa Tanjung, seorang dukun beranak bernama Hj. Miskiyah menyatakan bahwa terdapat sebuah tradisi bernama “Pelet Betteng” atau “Pelet Kandung”, juga dikenal sebagai “Salameddhen Kandung”.

Meskipun namanya mungkin memicu konotasi negatif seperti ilmu hitam atau praktik mistis, Pelet Betteng sebenarnya adalah upacara adat yang sarat makna keagamaan dan sosial untuk menyambut kehamilan pertama, biasanya saat usia kandungan mencapai tujuh bulan, atau kadang empat bulan.

Argumentasi:

Tradisi Pelet Betteng merupakan bentuk akulturasi budaya lokal dengan nilai-nilai Islam yang telah berlangsung turun-temurun. Tujuan utamanya adalah sebagai doa bersama dan ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas anugerah kehamilan, sekaligus memohon keselamatan bagi ibu dan janin agar proses persalinan berjalan lancar serta kelak melahirkan anak yang saleh, sehat, dan cerdas.

ADVERTISEMENT

Pelet Betteng tidak berkaitan sama sekali dengan praktik mistis seperti “pelet” untuk memikat seseorang. Kata “pelet” dalam konteks ini berasal dari bahasa Madura yang berarti “melepas” atau “mengurai”, merujuk pada harapan agar segala halangan dan nasib buruk (na’as) terlepas dari ibu dan bayi.

Cara Pelaksanaan:

Pelaksanaan Pelet Betteng meliputi beberapa tahapan awal, yaitu persiapan perlengkapan, bimbingan dukun bayi (nyae’), pemijatan lembut pada perut ibu hamil untuk merapikan posisi bayi, serta pembacaan doa (ngajhih).