“Kami tidak ingin gerakan kami justru menyinggung aparat dan berimbas pada pengetatan operasi di lapangan. Ini demi kemaslahatan bersama — petani, buruh pabrik, pengusaha, dan reseller rokok,” tegasnya.

Namun, HPTM menegaskan bahwa langkah audiensi tersebut tetap merupakan bentuk perlawanan moral. Mereka tidak menutup kemungkinan akan turun ke jalan apabila di kemudian hari ditemukan tindakan aparat yang dianggap arogan atau merugikan masyarakat.

“Kalau aparat bertindak kasar, kami pun siap melawan. Tapi selama mereka humanis, kami juga akan menempuh cara yang elegan,” ujarnya.

Zaini menekankan, perjuangan HPTM bukan hanya tentang industri rokok, tetapi menyangkut keberlangsungan ekonomi masyarakat Madura. Menurutnya, ribuan petani, buruh, dan pelaku industri kecil menggantungkan hidup dari sektor hasil tembakau yang menjadi urat nadi perekonomian lokal.

“Kami tidak menolak aturan. Kami hanya minta pembinaan dan edukasi, bukan pemusnahan usaha kecil. Kalau industri tembakau mati, Madura kehilangan sumber hidupnya,” ungkapnya.

ADVERTISEMENT

Sebelumnya, HPTM juga mengungkap bahwa para petani di Pamekasan melakukan patungan untuk mencetak banner protes sebagai bentuk penyampaian aspirasi secara damai. Sedikitnya 500 banner dipasang di berbagai titik strategis di Kabupaten Pamekasan dengan sejumlah pesan aspiratif, di antaranya:

Selamatkan Industri Hasil Tembakau Madura, Selamatkan Indonesia

Kami Bukan Koruptor, Masyarakat Madura Hanya Butuh Jadi Kawasan Ekonomi Khusus