MADURA SATU | SAMPANG - Ambruknya dua ruang kelas di SDN Margantoko 1, Kecamatan Jrengik, Kabupaten Sampang, mengakibatkan kegiatan belajar mengajar (KBM) terganggu.

Pihak sekolah terpaksa menyatukan empat kelas dalam satu ruangan perpustakaan, sementara dua kelas lainnya tetap belajar di ruang yang rusak dan rawan ambruk.

Kepala SDN Margantoko 1, Suranta, mengatakan siswa kelas 1, 2, 3, dan 4 saat ini belajar di ruang perpustakaan dengan kondisi duduk di lantai. Ruangan tersebut menjadi satu-satunya tempat yang masih bisa digunakan.

“Kegiatan belajar mengajar siswa kelas 1 sampai 4 ditempatkan dalam satu ruangan perpustakaan dengan cara duduk di lantai. Sebab, hanya ruangan ini yang masih bisa digunakan,” ujar Suranta, Jumat (13/2/2026).

Tak hanya difungsikan sebagai ruang belajar darurat, perpustakaan itu juga dijadikan ruang guru sekaligus ruang kepala sekolah demi efisiensi.

ADVERTISEMENT

Sementara itu, siswa kelas 5 dan 6 masih menempati ruang kelas lama meski kondisinya tidak layak. Bangunan mengalami kerusakan parah, atap bocor, dan dikhawatirkan ambruk saat hujan disertai angin kencang.

“Pembelajaran di sekolah ini jelas tidak bisa maksimal. Untuk kelas lima dan enam, jika terjadi hujan dan angin, ruang kelas rawan bocor dan dikhawatirkan ambruk,” katanya.

Ia menambahkan, setiap kali hujan turun disertai angin kencang, proses belajar siswa kelas 5 dan 6 terpaksa dihentikan. Para siswa kemudian dipindahkan ke ruang perpustakaan untuk menghindari risiko bahaya.

Menurut Suranta, pihak sekolah telah melaporkan kondisi tersebut ke Dinas Pendidikan Kabupaten Sampang sejak dua tahun lalu. Laporan dilakukan melalui sistem Dapodik disertai dokumentasi foto, serta penyampaian langsung ke dinas terkait.

“Informasi yang kami terima, tahun 2026 ini akan ada dana rehabilitasi. Namun hanya untuk satu ruang kelas,” tandasnya.

ADVERTISEMENT

Diketahui, dari total lima ruang kelas yang dimiliki sekolah tersebut, dua ruang telah lama ambruk dan kini ditumbuhi pepohonan liar. Tiga ruang lainnya mengalami kerusakan berat dan hanya dua yang masih digunakan meski dalam kondisi memprihatinkan.

Suranta mengungkapkan, kerusakan sudah terjadi sejak awal dirinya menjabat sebagai kepala sekolah pada 2022.

“Sejak saya jadi kepala sekolah awal 2022, dua ruang kelas itu sudah rusak parah dan tidak ditempati. Kerusakan kemudian merembet ke ruang lainnya,” jelasnya.

“Sejak saya jadi kepala sekolah awal 2022, dua ruang kelas itu sudah rusak parah dan tidak ditempati. Kerusakan kemudian merembet ke ruang lainnya,” jelasnya.