Dalam penampilannya, Semut Ireng 35 tetap mempertahankan unsur dasar musik tradisional Madura, seperti pola tabuhan, ritme, dan karakter bunyi. Sementara itu, pengembangan dilakukan pada aspek visual, pencahayaan, serta konsep panggung.

Hannan juga menyebut bahwa visual hanya berfungsi sebagai pengantar untuk menarik minat penonton agar lebih mengenal isi pertunjukan.

“Visual itu bukan tujuan utama, tapi jembatan supaya orang mau melihat dan mendengar,” ujarnya.

Proses pembentukan konsep pertunjukan tersebut tidak terjadi secara instan. Semut Ireng 35 melalui berbagai tahap latihan, diskusi internal, hingga beberapa kali percobaan konsep sebelum mencapai format yang dianggap tepat.

Dukungan ruang kreatif juga menjadi faktor penting dalam perjalanan mereka. Three Five Group disebut memberikan wadah bagi komunitas lokal untuk berekspresi dan menampilkan karya di ruang yang lebih terbuka.

ADVERTISEMENT

Perwakilan Three Five Group, Ipeng, mengatakan pihaknya berkomitmen membuka ruang bagi generasi muda yang masih peduli terhadap budaya lokal.

“Banyak anak muda yang sebenarnya masih peduli dengan budaya. Mereka hanya butuh tempat untuk menampilkan itu,” ujarnya.

Ia juga menilai kolaborasi seperti ini penting agar karya seni lokal tidak berhenti di lingkup kecil, tetapi dapat berkembang lebih luas.