“Saya curiga mereka tidak memiliki ahli gizi, sehingga porsinya tidak diatur dengan benar. Masak dibungkus seperti berkat tahlilan, nanti dikira datang dari tahlilan orang meninggal. Ini tidak bisa dibiarkan,” tegasnya.

Sementara itu, Asisten Lapangan SPPG Ibnu Bachir Banyupelle, Moh. Slamet, membantah tudingan tersebut. Ia menjelaskan bahwa penggunaan kemasan plastik hanya berlaku untuk menu kering.

“Setiap Jumat dan Sabtu menunya keringan. Jadi kalau menu kering memang tidak pakai ompreng, tapi pakai plastik,” jelasnya.

Menurutnya, seluruh menu MBG yang disalurkan sudah melalui proses perumusan dan konsultasi dengan ahli gizi serta pihak yayasan.

Menurutnya, seluruh menu MBG yang disalurkan sudah melalui proses perumusan dan konsultasi dengan ahli gizi serta pihak yayasan.

ADVERTISEMENT