Ketika pembahasan sampai ke balai pustaka Para sastrawan mulai membuat karya sastra lebih formal dan terstruktur, banyak karya yang membicarakan konflik sosial, tradisi, modernitas, dan tekanan hidup Masyarakat zaman kolonial, menyuarakan rasa nasionalisme, dan pembaharuan gaya bahasa.

Namun ketika sampai pada Angkatan 45 karya sastra menjadi alat perjuangan. Bahasa dibuat sederhana namun lebih berenergi dan lebih lantang seakan isinya adalah teriakan anak muda yang ingin merdeka, dimana berlanjut pada Angkatan ’66 – ’98 Sastra lebih ekspresif, kritis, dan sering kali memuat kritik terhadap pemerintah, kemudian di susul oleh sastra Kontemporer yang dimana saat ini bentuk sastra semakin beragam dan menarik karena berkembang mengikuti era digital, mulai dari puisi media sosial, novel populer, hingga karya eksperimental, meskipun berkembang seiring zaman di balik itu, kualitas sebuah karya sering menjadi tantangan dan dari tantangan tersebut kita diajak untuk bagaimana generasi sekarang tetap menjaga kualitas tanpa kehilangan kebebasan berekspresi.

Sebagai calon pendidik, saya menyadari bahwa sejarah sastra menjadi sarana untuk membuat peserta didik mengenal identitas bangsa melalui karya tulis. Materi ini sangat membantu dalam Mengajarkan karakter melalui tokoh dan pesan moral, mengembangkan kemampuan berpikir kritis melalui analisis karya dan menumbuhkan apresiasi terhadap bahasa dan budaya Indonesia serta Menjadikan sastra bukan sekadar bacaan, tetapi bagian dari pembelajaran nilai kehidupan. Dengan cara penyampaian yang menarik, saya percaya sejarah sastra dapat menjadi pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa.

Melihat perkembangan sastra di era digital, muncul pertanyaan penting: Apakah kemampuan literasi kita berkembang bersama zaman? Di satu sisi, semakin banyak karya baru muncul dan akses membaca semakin mudah. Namun di sisi lain, tantangan literasi juga semakin besar, karena banyak orang membaca sekadar lewat bukan memahami.

Sebagai mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, kelak saat menjadi seorang pendidik, saya akan mengusahakan agar tidak membuat siswa hanya menghafal judul, tema, atau struktur karya, tetapi dengan membawa siswa masuk ke dunia penulis misalnya, ketika siswa membaca novel klasik, mereka tidak hanya tahu isi ceritanya, tapi juga bisa memahami kenapa tokohnya bertindak seperti itu, atau kenapa tema nya berat ke konflik sosial dan budaya.

ADVERTISEMENT

Namun, seperti yang kita ketahui bersama bahwasanya Di dunia literasi dapat saya lihat minat baca mulai meningkat, tapi jenis bacaan yang dipilih sering kali ringan dan cepat, yang dimana seseorang cenderung sering membaca sesuatu dengan lebih cepat dan singkat, hal itu menyebabkan individu tersebut tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk mengelola dan menyaring bacaan atau sebuah informasi. Saya rasa perlu adanya dorongan agar pembaca mau untuk mengeksplor karya yang lebih kaya nilai, pemikiran maupun informasi.

Refleksi dan harapan pengembangan keilmuan ke depan.

Selama satu semester mempelajari mata kuliah Sejarah Sastra Indonesia, saya semakin memahami bahwa sastra bukan hanya sekadar rangkaian kata yang ditulis di atas kertas. Sastra ternyata menyimpan banyak hal menarik dan menantang mulai dari kisah sejarah, gambaran budaya, hingga identitas bangsa yang terus berkembang dari waktu ke waktu. Melalui pembelajaran ini, saya merasa mendapatkan bekal berharga untuk terus menghargai dan melestarikan karya seni yang telah diwariskan oleh para sastrawan Indonesia.