Pendahuluan

Awalnya, saya kira mata kuliah Sejarah Sastra Indonesia hanya tentang menghafal nama sastrawan, tahun, angkatan, dan judul karya yang harus diingat satu per satu,tetapi pemikiran itu hilang saat saya mengikuti mata kuliah sejarah sastra selama satu semester ini. Selama mengikuti mata kuliah ini membuat saya mulai merubah pemikiran itu, sebab saya mulai menyadari jika mata kuliah ini jauh lebih luas, bermakna dan yang tentunya menarik untuk di pelajari.

Sejarah sastra ternyata tidak hanya belajar menghafal nama sastrawan saja, karena pada mata kuliah ini saya diajak untuk menjelajah peristiwa zaman dahulu yang cukup menarik dan menantang,dari mata kuliah ini saya jadi tau bahwasanya karya sastra hadir karena kondisi sosial, budaya, dan politik yang terjadi pada zamannya, tidak hanya menghafal tetapi kita juga diajak untuk mencari tau,mencari jejak tentang karya sastra dan tokoh nya.

Mata kuliah yang saya kira hanya menjelaskan dan menghafal, ternyata dalam kegiatan pembelajaran nya bisa bermain, menonton bahkan bisa sambil nyemil karena cara belajar serta penyampaian materi yang menarik.

Refleksi

ADVERTISEMENT

Selama satu semester belajar sejarah sastra ada satu hal yang membuat saya tersadar yaitu betapa panjang dan berwarnanya perjalanan sastra Indonesia. Perjalanan sastra indonesia dimulai dari masa sebelum Indonesia merdeka sampai sastra berkembang menjadi serba cepat dan digital.

Setiap Angkatan yang lahir mempunyai jiwa dan zamannya tersendiri, misal nya sastra Pra-Kemerdekaan dimana pada saat itu Karya sastra masih banyak yang berbentuk syair, hikayat, dan gurindam, dan menceritakan tentang perjuangan,Kebangsaan serta kritik terhadap penjajah.

Kemudian di lanjut ke Pujangga baru, dimana pada Masa ini ditandai dengan terbitnya novel-novel realis seperti Siti Nurbaya dan Salah Asuhan yang di dalam nya berisi tentang konflik budaya antara tradisi dan modernitas yang sangat beragam dan mudah untuk dipahami oleh pembaca.