MADURA SATU | PAMEKASAN – Hampir satu bulan berlalu sejak laporan pembobolan SD Negeri (SDN) Banyubulu 3, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan, diterima pihak kepolisian. Namun, hingga kini pelaku pencurian yang menggasak sejumlah aset sekolah senilai belasan juta rupiah itu belum juga berhasil diungkap.

Kasus tersebut dilaporkan oleh Nuraini, seorang aparatur sipil negara (ASN) asal Desa Samatan, Kecamatan Proppo.

Peristiwa pencurian terjadi pada Senin, 13 Juli 2026, sekitar pukul 23.00 WIB, di SDN Banyubulu 3, Dusun Laok, Desa Banyubulu, Kecamatan Proppo.

Berdasarkan laporan yang diterima polisi, pelaku diduga masuk dengan cara membobol pintu kantor, kantin, dan ruang perpustakaan sebelum akhirnya mencongkel brankas sekolah.

Akibat kejadian tersebut, sejumlah barang inventaris sekolah raib, di antaranya satu unit LCD proyektor Epson EB-E500, printer Epson L3210, laptop HP, speaker aktif Sharp, mikrofon beserta kabel, tabung elpiji 3 kilogram, flashdisk, serta uang tunai.

ADVERTISEMENT

Total kerugian yang dialami pihak sekolah diperkirakan mencapai Rp16.923.400.

Meski laporan telah diterima Polsek Proppo sejak 14 Juli 2026, hingga kini belum ada informasi mengenai identitas maupun penangkapan pelaku. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan dari pihak pelapor terkait perkembangan penyelidikan.

"Sudah hampir satu bulan sejak laporan dibuat, tetapi sampai sekarang belum ada perkembangan yang jelas. Padahal, rekaman CCTV juga ada," ujar Nuraini, Senin (3/8/2026).

Nuraini mengaku berharap aparat kepolisian dapat segera mengusut tuntas kasus tersebut, mengingat pencurian di lingkungan pendidikan tidak hanya menimbulkan kerugian materi, tetapi juga mengganggu proses belajar mengajar.

"Kami hanya ingin kepastian hukum. Jangan sampai kasus ini berhenti begitu saja tanpa ada kejelasan mengenai siapa pelakunya," kata Nuraini.

ADVERTISEMENT

Menurutnya, lambannya pengungkapan kasus tersebut membuat masyarakat mempertanyakan keseriusan aparat dalam menangani perkara yang terjadi di fasilitas pendidikan.

"Kami berharap kepolisian bergerak lebih cepat untuk mengungkap kasus ini sehingga rasa aman di lingkungan sekolah bisa kembali pulih," pungkas Nuraini. (*)