MADURA SATU | PAMEKASAN - Aksi penipuan bermodus pesanan fiktif kembali terjadi di Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur.

Kali ini, pelaku mencatut nama institusi TNI untuk meyakinkan korban hingga menyebabkan kerugian mencapai puluhan juta rupiah.

Peristiwa ini menimpa seorang pengusaha muda bernama Lutfiadi, warga Desa Potoan Laok, Kecamatan Palengaan.

Ia mengaku tertipu oleh dua orang yang mengaku sebagai staf satuan TNI dan pihak suplier yang disebut berasal dari Kabupaten Sampang.

Kasus ini bermula ketika korban dihubungi seseorang yang mengaku sebagai staf dari Batalyon Infanteri (Yonif) 516.

ADVERTISEMENT

Pelaku menawarkan kerja sama pengadaan barang dan jasa untuk kebutuhan militer, seperti banner, pelumas senjata, hingga headset taktis.

Untuk memperkuat aksinya, pelaku menunjukkan dokumen yang tampak resmi dengan mencatut nama satuan TNI serta Komandan Kodim Pasuruan. Hal tersebut membuat korban semakin yakin untuk menjalin kerja sama.

“Awalnya saya percaya karena ada dokumen dan nama satuan yang disebut. Pelaku juga meyakinkan bahwa ini proyek resmi,” ungkap Lutfiadi, Senin (6/4/2026).

Dalam prosesnya, korban diarahkan untuk berkomunikasi dengan seseorang yang mengaku sebagai suplier bernama Kevin. Ia disebut berasal dari perusahaan Sumber Graha Sejahtera yang berkantor di Sampang.

Korban kemudian diminta mentransfer uang muka (DP) untuk pengadaan barang. Transfer pertama dilakukan sebesar Rp10 juta untuk pembelian pelumas senjata.

ADVERTISEMENT

“Transfer Rp10 juta sebagai DP pelumas ke rekening atas nama Kevin Rizki Ananda,” jelasnya.

Tidak berhenti di situ, korban kembali diminta melakukan transfer lanjutan sebesar Rp30 juta untuk pengadaan pelumas jenis Ballistol Guncer dan headset taktis militer.

“Kemudian saya transfer lagi Rp30 juta untuk pelumas dan headset taktis yang katanya akan segera dikirim,” tambah Lutfiadi.

Pelaku yang mengaku bernama Rian Pratama bahkan sempat menjanjikan korban akan dijadikan vendor tetap untuk pengadaan kebutuhan TNI di masa mendatang.

Namun, kecurigaan mulai muncul ketika barang yang dijanjikan tidak kunjung dikirim. Setelah mencoba menghubungi para pelaku dan tidak mendapat kejelasan, korban akhirnya menyadari telah menjadi korban penipuan.

ADVERTISEMENT

Menindaklanjuti kejadian tersebut, korban melaporkan kasus ini ke Polres Pamekasan untuk diproses secara hukum.

Komandan Polisi Militer Pamekasan, Sudirman, memastikan bahwa kasus tersebut merupakan murni penipuan yang mengatasnamakan institusi TNI.

“Korban ini jelas ditipu. Setelah kami cek, pelaku hanya mencatut nama satuan TNI. Dokumen yang digunakan juga tidak sesuai prosedur resmi,” tegasnya.

Ia juga menambahkan bahwa dokumen resmi TNI tidak menggunakan materai, melainkan stempel komandan, sehingga dokumen yang ditunjukkan pelaku dipastikan palsu.

“Seharusnya menggunakan stempel komandan, bukan materai. Ini murni penipuan,” imbuhnya.

ADVERTISEMENT

Lebih lanjut, Sudirman mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap penawaran yang mengatasnamakan institusi, khususnya TNI.

“Tidak ada TNI yang melibatkan pihak sipil dalam pengadaan alat seperti itu. Semua dilakukan melalui mekanisme resmi dari pusat,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa Yonif 516 saat ini sudah tidak lagi berada di wilayah Pamekasan, sehingga masyarakat harus semakin waspada terhadap modus serupa.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Pamekasan AKP Yoyok Hardianto membenarkan adanya laporan dari korban dan menyatakan pihaknya tengah melakukan penyelidikan.

“Iya benar, ada laporan warga yang ditipu dengan mengatasnamakan satuan TNI dan Dandim Pasuruan. Saat ini masih kami dalami,” katanya.

ADVERTISEMENT

Pihak kepolisian juga mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati, terutama ketika menerima tawaran kerja sama dari pihak yang tidak dikenal.

“Kami mengimbau agar masyarakat tidak mudah percaya dengan nomor baru yang mengaku dari institusi tertentu. Sebaiknya lakukan verifikasi langsung sebelum melakukan transaksi,” tandasnya. (*)