PAMEKASAN – Kerusakan jembatan penghubung di Kampung Sekaan, Desa Palengaan Daja, Kabupaten Pamekasan, hingga kini belum mendapat penanganan serius.

Padahal, jembatan tersebut menjadi akses utama warga menuju Pasar Palengaan sekaligus jalur vital bagi pelajar SDN Palengaan Daja 1. Kondisi ini telah berlangsung hampir empat tahun tanpa solusi permanen.

Akibat jembatan yang tak kunjung diperbaiki, warga terpaksa membangun jembatan darurat dari bambu secara swadaya.

Langkah ini dilakukan demi memastikan anak-anak tetap bisa bersekolah dan roda perekonomian warga tidak terhenti. Namun, jembatan bambu tersebut sangat rentan, terutama saat musim hujan.

“Setiap tahun kami memperbaiki sendiri karena bambunya cepat lapuk. Kalau hujan deras, kami khawatir jembatan bisa roboh kapan saja,” ujar Moh Wasil, warga Kampung Sekaan.

ADVERTISEMENT

Kondisi ini menimbulkan rasa waswas, khususnya bagi para orang tua yang setiap hari melepas anak-anak mereka menyeberangi jembatan seadanya tersebut.

Tidak sedikit siswa yang harus berjalan perlahan sambil berpegangan agar tidak terjatuh ke aliran sungai di bawahnya.

“Anak-anak lewat sini pagi dan pulang siang. Kami sebagai orang tua selalu cemas, apalagi kalau air sungai naik,” tutur seorang ibu warga setempat.