Dua indikator lain turut menguat, yakni Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2). P1 naik dari 1,05 menjadi 1,45, sementara P2 meningkat dari 0,14 menjadi 0,24.

Menurut BPS, kondisi ini menunjukkan bahwa rata-rata penduduk miskin semakin jauh dari garis kemiskinan, dan kesenjangan antar penduduk miskin semakin melebar.

“Artinya, diperlukan upaya yang lebih besar dan tepat sasaran untuk membantu masyarakat miskin keluar dari garis kemiskinan. Pendekatannya harus lebih menyentuh karakteristik kerentanan yang beragam,” jelas Parsad.

Di sisi lain, pemerintah daerah juga menerima pembaruan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial Nasional (DTSEN) per 27 November 2025.

Total pendataan DTSEN di Pamekasan mencapai 921.956 jiwa, dengan 535.851 jiwa berada pada kelompok desil 1–5 yang mencerminkan tingkat kesejahteraan rendah.

ADVERTISEMENT

Sementara kelompok desil 6–10, desil 0, dan kategori minus tercatat sebanyak 386.105 jiwa.

BPS menyebut, pembaruan data DTSEN menjadi acuan penting untuk integrasi berbagai program perlindungan sosial. Dengan meningkatnya kedalaman dan kompleksitas kemiskinan, sinkronisasi data dinilai sangat penting agar bantuan sosial benar-benar tepat sasaran.

BPS menyebut, pembaruan data DTSEN menjadi acuan penting untuk integrasi berbagai program perlindungan sosial. Dengan meningkatnya kedalaman dan kompleksitas kemiskinan, sinkronisasi data dinilai sangat penting agar bantuan sosial benar-benar tepat sasaran.