Prengki juga menyoroti ketimpangan pembangunan yang masih dirasakan sebagian masyarakat Madura. Menurutnya, posisi Madura yang hingga kini berada dalam wilayah administrasi Jawa Timur kerap membuat perhatian pembangunan tidak sepenuhnya maksimal.

Karena itu, buku Merajut Mimpi, Madura Provinsi juga menjadi bentuk kritik konstruktif sekaligus harapan agar Madura memperoleh ruang yang lebih adil dalam pembangunan nasional.

Melalui peluncuran buku ini, Prengki berharap semangat perjuangan Madura menjadi provinsi kembali bersemi. Ia ingin gagasan besar tersebut tidak hanya berhenti di ruang diskusi, tetapi diteruskan oleh seluruh elemen masyarakat, tokoh daerah, akademisi, hingga generasi muda.

“Saya ingin anak-anak muda Madura tahu bahwa mimpi ini pernah diperjuangkan oleh para pendahulu. Tugas kita sekarang adalah melanjutkannya dengan cara yang lebih cerdas dan terorganisir,” ungkapnya.

Meski diakui masih terdapat berbagai tantangan, baik dari sisi politik, regulasi, maupun kesiapan sumber daya, Prengki tetap optimistis mimpi Madura menjadi provinsi suatu hari akan terwujud.

ADVERTISEMENT

Meski diakui masih terdapat berbagai tantangan, baik dari sisi politik, regulasi, maupun kesiapan sumber daya, Prengki tetap optimistis mimpi Madura menjadi provinsi suatu hari akan terwujud.