Sebab, jika tidak, desil justru berpotensi menjadi tembok administratif antara negara dan rakyat.

Kesejahteraan tidak boleh berhenti pada pertanyaan, “Anda masuk desil berapa?” Tetapi harus dilanjutkan dengan pertanyaan yang lebih manusiawi: “Bagaimana sebenarnya kehidupan Anda hari ini?”

Di titik inilah pemerintah era Prabowo perlu berhati-hati. Modernisasi tata kelola melalui data adalah kebutuhan zaman, tetapi data hanyalah alat untuk membaca rakyat, bukan pengganti rakyat itu sendiri.

Angka dapat menunjukkan posisi ekonomi seseorang.

Tetapi, angka tidak selalu mampu membaca kecemasan seorang ibu ketika uang belanja hampir habis. Tidak selalu mampu membaca seorang ayah yang menyembunyikan kesulitan ekonominya. Dan tidak selalu mampu membaca keluarga yang tampak baik-baik saja di atas kertas, tetapi sedang berjuang keras mempertahankan kehidupan.

ADVERTISEMENT

Maka, jika kesejahteraan rakyat hari ini hendak diukur melalui desil, jangan biarkan rakyat hanya menjadi “angka yang dipindahkan dari satu tabel ke tabel lainnya”.

Negara harus memastikan bahwa di balik setiap desil terdapat manusia, keluarga, kebutuhan, dan realitas sosial yang benar-benar didengar.

Karena pada akhirnya, rakyat tidak hidup dalam desil. Rakyat hidup dalam kenyataan.