MADURA SATU - Di tengah gegap gempita narasi tentang kesejahteraan rakyat, negara kini semakin sering berbicara dengan bahasa angka: desil, persentase, kelompok ekonomi, dan data terpadu. Seolah-olah kehidupan masyarakat dapat diringkas menjadi angka 1 sampai 10; yang miskin ditempatkan di bawah, sedangkan yang lebih mampu berada di atas.

Tidak ada yang salah dengan data. Bahkan, negara memang membutuhkan data yang akurat agar kebijakan tidak berjalan dengan mata tertutup. Namun, persoalannya muncul ketika angka dijadikan wajah utama kesejahteraan, sementara rakyat yang berada di balik angka tersebut justru semakin asing dari proses penentuannya.

Dalam era pemerintahan Prabowo, pendekatan berbasis desil menjadi semakin penting dalam menentukan siapa yang berhak menerima berbagai program perlindungan sosial. Secara konsep, kebijakan tersebut dapat menjadi instrumen untuk membuat bantuan lebih tepat sasaran. Tetapi, pertanyaan yang jauh lebih mendasar patut diajukan:

“Dari mana angka kesejahteraan itu lahir? Siapa yang menentukan? Seberapa sering data tersebut diperbarui? Dan apakah kondisi hidup seseorang benar-benar dapat diwakili oleh satu angka desil?”

Sebab, kehidupan rakyat tidak selalu berjalan seperti tabel statistik.

ADVERTISEMENT

Ada keluarga yang hari ini masih mampu membeli beras, tetapi besok tidak tahu dari mana uang untuk membayar sekolah anak. Ada pedagang kecil yang terlihat memiliki usaha, tetapi pendapatannya tidak menentu. Ada buruh harian yang dalam satu minggu tampak memiliki penghasilan, tetapi pada minggu berikutnya tidak mendapatkan pekerjaan. Ada pula keluarga yang secara administratif terlihat cukup, tetapi sesungguhnya hidup dengan utang yang menumpuk.

Di sinilah problem besar pendekatan berbasis data muncul: realitas sosial bergerak jauh lebih cepat daripada pembaruan data.

Masyarakat kemudian berada dalam posisi yang agak ironis. Mereka menjadi objek pendataan, tetapi sering kali tidak benar-benar mengetahui bagaimana hasil pendataan tersebut berubah menjadi status kesejahteraan mereka.