MADURA SATU | SUMENEP - Kondisi jalan rusak di Desa Matanair, Kecamatan Rubaru, belakangan kembali menjadi bahan perbincangan hangat. 

Bukan hanya di lapangan, isu ini bahkan memicu diskusi sengit di grup WhatsApp yang beranggotakan jurnalis dan anggota DPRD Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Perdebatan itu bermula dari keluhan seorang wartawan online, Mahrus Ali, yang mengaku mengalami kecelakaan saat melintas di jalan tersebut. 

Ia menyebut kondisi jalan berlubang dan rusak cukup membahayakan pengguna, terutama saat musim hujan. 

“Lubangnya cukup dalam dan sulit dihindari. Saya sempat jatuh saat melintas,” ungkapnya dalam percakapan grup, memantik respons dari berbagai pihak, Minggu (22/3) malam. 

ADVERTISEMENT

Percakapan kemudian berkembang menjadi diskusi hangat. Sejumlah anggota dewan saling melontarkan pandangan dan pendapat, sementara para jurnalis turut memberikan kritik membangun. 

Tak sedikit pula yang menyoal kinerja Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kabupaten Sumenep. Anggota Komisi III DPRD Sumenep, Akhmadi Yasid, mengakui bahwa kerusakan jalan saat ini sudah berada pada titik yang cukup parah.

Ia menyebut banyak ruas jalan mengalami kerusakan serius hingga memaksa warga melakukan perbaikan secara swadaya.

“Kalau bicara kerusakan jalan, saat ini memang sudah mencapai titik klimaks. Banyak ruas dalam kondisi memprihatinkan, bahkan masyarakat harus turun tangan sendiri,” ujarnya.

Ia juga menyinggung dampak kebijakan nasional, yakni Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025, yang berimbas pada minimnya anggaran infrastruktur daerah. Menurutnya, dana alokasi khusus (DAK) untuk infrastruktur sempat nihil, sehingga memperlambat penanganan. 

ADVERTISEMENT

“Tahun ini baru ada lagi anggaran, sekitar Rp49 miliar untuk jalan di Sumenep. Tapi jelas tidak cukup untuk menjangkau semua wilayah,” katanya. 

Dengan kondisi cuaca yang masih didominasi hujan berintensitas tinggi, Yasid memperkirakan jumlah jalan rusak akan terus bertambah. Ia pun menyampaikan pernyataan bernada satire di tengah diskusi tersebut. 

“Ke depan kita harus siap menghadapi kondisi ini. Kadang kita harus ‘menikmati’ banyaknya jalan berlubang,” ucapnya. 

Sementara itu, Anggota Komisi I DPRD Sumenep, M. Mirza Khomaini Hamid, menyatakan bahwa dirinya telah lebih dulu menyampaikan kondisi jalan tersebut kepada Dinas PUTR, bahkan sebelum Lebaran. 

Namun, ia mengaku perbaikan masih harus menunggu antrean. Penanganan sementara berupa tambal sulam disebut menjadi prioritas, sementara upaya pelebaran jalan masih dalam tahap perjuangan anggaran. 

ADVERTISEMENT

“Sudah saya sampaikan ke dinas, tapi memang masih menunggu giliran. Untuk pelebaran, masih kami upayakan,” katanya. 

Ia juga memaparkan bahwa kerusakan tidak hanya terjadi di satu titik, melainkan membentang dari kawasan Asta Tinggi hingga perbatasan Pakondang–Matanair. 

“Banyak lubang di sepanjang jalur itu. Jawaban dari dinas masih sama, menunggu giliran perbaikan,” ujarnya. 

Diskusi di grup tersebut menjadi cerminan keresahan publik. Di satu sisi, masyarakat menuntut perbaikan cepat, sementara di sisi lain pemerintah daerah dihadapkan pada keterbatasan anggaran. 

Kondisi ini memperlihatkan bahwa persoalan infrastruktur jalan di Sumenep bukan sekadar isu teknis, melainkan juga berkaitan erat dengan kebijakan anggaran dan prioritas pembangunan. 

ADVERTISEMENT

Tanpa langkah strategis dan percepatan penanganan, jalan rusak seperti di Matanair berpotensi terus menjadi ancaman bagi keselamatan warga. (*)