“Kalau bicara kerusakan jalan, saat ini memang sudah mencapai titik klimaks. Banyak ruas dalam kondisi memprihatinkan, bahkan masyarakat harus turun tangan sendiri,” ujarnya.

Ia juga menyinggung dampak kebijakan nasional, yakni Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025, yang berimbas pada minimnya anggaran infrastruktur daerah. Menurutnya, dana alokasi khusus (DAK) untuk infrastruktur sempat nihil, sehingga memperlambat penanganan. 

“Tahun ini baru ada lagi anggaran, sekitar Rp49 miliar untuk jalan di Sumenep. Tapi jelas tidak cukup untuk menjangkau semua wilayah,” katanya. 

Dengan kondisi cuaca yang masih didominasi hujan berintensitas tinggi, Yasid memperkirakan jumlah jalan rusak akan terus bertambah. Ia pun menyampaikan pernyataan bernada satire di tengah diskusi tersebut. 

“Ke depan kita harus siap menghadapi kondisi ini. Kadang kita harus ‘menikmati’ banyaknya jalan berlubang,” ucapnya. 

ADVERTISEMENT

Sementara itu, Anggota Komisi I DPRD Sumenep, M. Mirza Khomaini Hamid, menyatakan bahwa dirinya telah lebih dulu menyampaikan kondisi jalan tersebut kepada Dinas PUTR, bahkan sebelum Lebaran. 

Namun, ia mengaku perbaikan masih harus menunggu antrean. Penanganan sementara berupa tambal sulam disebut menjadi prioritas, sementara upaya pelebaran jalan masih dalam tahap perjuangan anggaran. 

“Sudah saya sampaikan ke dinas, tapi memang masih menunggu giliran. Untuk pelebaran, masih kami upayakan,” katanya.