Ia juga memaparkan bahwa kerusakan tidak hanya terjadi di satu titik, melainkan membentang dari kawasan Asta Tinggi hingga perbatasan Pakondang–Matanair. 

“Banyak lubang di sepanjang jalur itu. Jawaban dari dinas masih sama, menunggu giliran perbaikan,” ujarnya. 

Diskusi di grup tersebut menjadi cerminan keresahan publik. Di satu sisi, masyarakat menuntut perbaikan cepat, sementara di sisi lain pemerintah daerah dihadapkan pada keterbatasan anggaran. 

Kondisi ini memperlihatkan bahwa persoalan infrastruktur jalan di Sumenep bukan sekadar isu teknis, melainkan juga berkaitan erat dengan kebijakan anggaran dan prioritas pembangunan. 

Tanpa langkah strategis dan percepatan penanganan, jalan rusak seperti di Matanair berpotensi terus menjadi ancaman bagi keselamatan warga. (*)

ADVERTISEMENT