Di sisi lain, Khofifah menilai persoalan kekeringan tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengirimkan bantuan air bersih ketika musim kemarau. Pemerintah perlu mencari sumber air yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Salah satu upaya yang didorong adalah pemetaan titik potensial untuk pembangunan sumur bor. Pemetaan tersebut dilakukan dalam skala Pulau Madura melalui kolaborasi dengan program TNI.

“Sebetulnya ini kan sedang ada pemetaan skala besar ya TNI sepulau Madura, itu sebetulnya untuk bisa diidentifikasi dibor dengan kedalaman tertentu itu juga harus dimaksimalkan,” ungkapnya.

Menurut Khofifah, keberadaan sumber air dengan debit yang mencukupi juga dapat menjadi alternatif. Air dari sumber tersebut nantinya bisa dialirkan menuju wilayah permukiman yang membutuhkan.

Ia menyebut skema penyaluran air dari sumber yang memiliki debit cukup hingga jarak belasan kilometer telah diterapkan di sejumlah daerah.

ADVERTISEMENT

“Sumber air cukup itu bisa ditarik sampai 17 kilometer, kita sudah pernah melakukan itu di banyak tempat yang terdeteksi,” tegasnya.

Sementara terkait pembangunan embung dan waduk di Kabupaten Sampang, Khofifah mengatakan pemerintah masih melakukan pemetaan untuk menentukan lokasi yang memiliki potensi. Kajian diperlukan agar pembangunan infrastruktur tersebut sesuai dengan kondisi wilayah dan kebutuhan masyarakat.

“Kalau terkait pembangunan embung dan waduk, kita masih mau melihat potensi wilayah titik mana saja yang akan berpotensi dibangun embung atau waduk, karena harus dilakukan assessment,” tuturnya.