MADURA SATU | PAMEKASAN - Di sudut Dusun Soloh, Desa Murtajih, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan, Nurrahmah (46) menjalani hari-harinya di atas keterbatasan.

Tubuhnya lumpuh akibat stroke, suaminya pergi meninggalkannya, dan bantuan sosial yang seharusnya menjadi penopang hidup, tak pernah sekalipun ia rasakan.

Sudah bertahun-tahun ia hanya bisa terbaring dan bergantung pada belas kasih saudaranya. Padahal, namanya tak pernah tercatat sebagai penerima Program Keluarga Harapan (PKH) maupun bantuan sosial lainnya.

“Saya tidak pernah mendapatkan bantuan apa pun untuk biaya anak sekolah,” ucapnya dengan suara lirih, Jumat (13/2/2026).

Sebelum stroke menyerangnya, Nurrahmah masih bisa bekerja sebagai petani untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Namun sejak tubuhnya tak lagi mampu digerakkan normal, penghasilan pun terhenti total.

ADVERTISEMENT

Dalam kondisi sakit, sang suami justru memilih pergi, meninggalkannya berjuang sendiri bersama anak semata wayangnya, Kholifatun Nadiah (16).

Kini, kehidupan mereka sepenuhnya bergantung pada Nurayyah (60), saudara kandung Nurrahmah yang juga hidup dalam keterbatasan. Dari tangan saudaranya itulah makan sehari-hari hingga biaya sekolah Kholifatun dipenuhi, meski serba pas-pasan.

Ironisnya, di saat banyak warga lain menerima bantuan, Nurrahmah justru tak pernah tersentuh program apa pun. Bahkan bantuan beras pun belum pernah ia terima.