MADURA SATU | PAMEKASAN - Niat menjual telepon seluler (HP) seharga Rp4,5 juta justru berujung kehilangan uang. Dendi, warga Pamekasan, mengaku menjadi korban dugaan penipuan setelah berkenalan dengan calon pembeli melalui grup jual beli Facebook.

Perkenalan tersebut kemudian berlanjut ke percakapan melalui WhatsApp. Dari komunikasi tersebut, keduanya melakukan tawar-menawar hingga harga HP yang semula Rp4,5 juta disepakati menjadi Rp4 juta.

Menurut Dendi, calon pembeli mengaku sedang berada di luar Indonesia dan bekerja di bidang pelayaran. Orang tersebut juga mengaku sebagai warga Tlanakan, Pamekasan.

“Ngakunya orang Tlanakan. Bilangnya kerja di luar negeri, pelayaran gitu,” ujar Dendi saat dikonfirmasi madurasatu.com, Sabtu, (3/10/2026).

Karena calon pembeli mengaku berada di luar negeri, Dendi kemudian meminta nomor yang berada di Madura. Calon pembeli lalu memberikan nomor yang disebut sebagai nomor istrinya.

ADVERTISEMENT

Komunikasi kemudian berlanjut melalui WhatsApp hingga akhirnya dilakukan video call. Dalam sambungan tersebut, calon pembeli mengaku hendak melakukan transfer pembayaran untuk HP yang akan dibeli.

Namun, setelah nomor rekening diberikan, calon pembeli berdalih transaksi tidak bisa dilakukan. Ia kemudian meminta rekening diperlihatkan menggunakan kamera belakang ponsel.

“Pas VC itu dia mau transfer, sudah dikasih nomor rekening, tapi katanya nggak bisa. Terus dia minta kamera belakang untuk melihat rekening,” jelas Dendi.

Rekening yang diperlihatkan merupakan rekening BNI milik ibu Dendi. Saat itu, saldo di rekening tersebut sekitar Rp4,5 juta.

Menurut Dendi, calon pembeli kemudian meminta QRIS BNI yang terkait dengan rekening tersebut diperlihatkan melalui kamera.

ADVERTISEMENT

“Terus dia minta QRIS BNI. Baru dilihatkan, nggak sampai lima detik, teleponnya langsung dimatikan,” ungkapnya.

Setelah sambungan video call terputus, Dendi mengecek rekening tersebut. Ia mendapati saldo yang sebelumnya sekitar Rp4,5 juta telah berkurang drastis.

Berdasarkan bukti transaksi yang diperlihatkan Dendi, pada 1 Oktober 2026 pukul 12.22.23 WIB, tercatat transaksi keluar sebesar Rp4.141.414. Sebelumnya juga tercatat transaksi sebesar Rp333.333.

Total dua transaksi tersebut mencapai Rp4.474.747. Sementara saldo akhir rekening dalam bukti transaksi tercatat hanya Rp33.187.

Dendi kemudian mencoba menghubungi kembali calon pembeli tersebut. Menurut Dendi, nomor yang digunakan untuk berkomunikasi hingga kini masih aktif.

ADVERTISEMENT

Saat kembali dihubungi, Dendi mengaku justru mendapat respons yang menantang. Orang tersebut disebut meminta agar kejadian itu dilaporkan kepada polisi.

“Nomornya sampai sekarang masih aktif. Waktu saya hubungi, malah nantang, katanya laporkan saja ke polisi,” kata Dendi.

Pascakejadian, Dendi mengaku langsung mendatangi Polsek Kota Pamekasan untuk meminta bantuan agar nomor yang digunakan calon pembeli tersebut dapat dilacak.

“Saya laporan, kak. Tolong dilacak, kata saya. Terus bilangnya nggak bisa, harus nomor biasa, bukan WA,” ujar Dendi.

Menurut Dendi, pihak yang ditemuinya di Polsek Kota menyampaikan bahwa nomor tersebut merupakan nomor WhatsApp sehingga diperlukan nomor telepon biasa untuk dilakukan pelacakan.

ADVERTISEMENT

Dendi berharap kejadian tersebut dapat ditindaklanjuti, termasuk dengan menelusuri nomor yang digunakan calon pembeli serta aliran dana dari rekening milik ibunya.(*)