Sate Lalat merupakan salah satu kuliner tradisional yang berasal dari Kabupaten Pamekasan, Madura. Meskipun namanya terdengar unik dan bahkan sedikit ekstrem, makanan ini sama sekali tidak menggunakan lalat sebagai bahan utamanya.

Istilah “sate lalat'” muncul karena ukuran potongan daging pada setiap tusuknya yang sangat kecil, sehingga sekilas menyerupai ukuran tubuh lalat.

Dari sinilah ciri identitas kuliner ini terbentuk dan menjadi pembeda utama dari jenis sate lainnya yang lebih umum ditemui di berbagai daerah Indonesia.

Secara historis, keberadaan sate lalat tidak dapat dipisahkan dari peran masyarakat lokal dan para pedagang kaki lima. Sekarang sudah banyak ditemui terutama di jalan Niaga yang menyajikan kuliner sejak lama dan berderet sepanjang pintu gerbang hingga ujung.

Konon, salah satu tokoh yang sering disebut sebagai pelopor adalah seorang penjual sederhana di jalan itu yang bernama Bapak Ento, yang memulai usahanya sekitar seperempat abad lalu dengan cara berkeliling kampung sambil memikul dagangan sate di atas anyaman bambu.

ADVERTISEMENT

Kegigihan beliau dan penerimaan masyarakat terhadap rasa khas sate lalat menjadikan kuliner ini berkembang pesat hingga akhirnya populer dan menjadi ikon kuliner Pamekasan.

Keunikan utama sate lalat terletak pada beberapa aspek, mulai dari ukuran daging yang kecil, proses pembakaran di atas arang tradisional, hingga bumbu autentik Madura yang meresap sempurna ke dalam serat daging.

Daging yang digunakan bisa berupa ayam, kambing, maupun sapi, yang dipotong sangat kecil agar cepat matang dan terasa lebih gurih.