MADURA SATU | SAMPANG - Perbedaan keterangan antara pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan kader posyandu mencuat dalam polemik distribusi Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Somber, Kecamatan Tambelangan, Kabupaten Sampang.

Ketidaksinkronan ini bermula dari temuan paket MBG yang diterima ibu menyusui dalam kondisi dibungkus kertas minyak, bukan menggunakan wadah standar berupa ompreng sebagaimana prosedur yang berlaku.

Pihak SPPG Tambelangan Banjarbillah menegaskan bahwa seluruh makanan yang keluar dari dapur telah menggunakan wadah sesuai standar.

Kepala SPPG, Lailatul Fitria, memastikan tidak ada kebijakan penggunaan bungkus kertas dalam proses distribusi.

“Iya, dari dapur kami semuanya sudah pakai ompreng. Tidak ada yang dibungkus kertas dari sini,” ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (6/4/2026).

ADVERTISEMENT

Ia mengakui adanya temuan makanan yang dibungkus kertas minyak, namun menurutnya hal itu hanya terjadi pada satu kasus dan bukan merupakan kebijakan resmi.

“Itu hanya satu penerima saja, karena wadahnya belum kembali. Itu inisiatif kader di lapangan,” tegasnya.

Lailatul juga menegaskan bahwa pihaknya sejak awal melarang penggunaan kemasan kertas minyak dalam program MBG karena dinilai tidak sesuai standar higienitas.

“Kami tidak pernah menganjurkan penggunaan kertas minyak. Kalau itu terjadi, murni kesalahan kader,” katanya.

Namun, pernyataan tersebut berbanding terbalik dengan pengakuan kader posyandu di Dusun Somber.

ADVERTISEMENT

Saroh, salah satu kader, mengungkapkan bahwa penggunaan bungkus kertas minyak dilakukan secara sadar oleh kader untuk mempermudah distribusi.

“Dari dapur memang pakai ompreng. Tapi di lapangan kami akali sendiri, karena kalau pakai ompreng itu lebih repot saat dibagikan,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, kendala utama berasal dari wadah yang tidak kembali karena penerima manfaat tidak berada di rumah saat distribusi dilakukan.

“Thinwall tidak semuanya kembali. Ada yang tertinggal di rumah penerima, jadi sebagian kami pakai kertas minyak,” jelasnya.

Lebih jauh, Saroh menyebut bahwa penggunaan kertas minyak bukan sepenuhnya keputusan sepihak kader. Ia mengklaim bahwa hal tersebut pernah dibahas bersama pihak dapur.

ADVERTISEMENT

“Sudah pernah dirembuk. Dari dapur memperbolehkan pakai kertas, asal beli sendiri, tidak disediakan dari dapur,” tandasnya.(*)