“Kami tidak pernah menganjurkan penggunaan kertas minyak. Kalau itu terjadi, murni kesalahan kader,” katanya.

Namun, pernyataan tersebut berbanding terbalik dengan pengakuan kader posyandu di Dusun Somber.

Saroh, salah satu kader, mengungkapkan bahwa penggunaan bungkus kertas minyak dilakukan secara sadar oleh kader untuk mempermudah distribusi.

“Dari dapur memang pakai ompreng. Tapi di lapangan kami akali sendiri, karena kalau pakai ompreng itu lebih repot saat dibagikan,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, kendala utama berasal dari wadah yang tidak kembali karena penerima manfaat tidak berada di rumah saat distribusi dilakukan.

ADVERTISEMENT

“Thinwall tidak semuanya kembali. Ada yang tertinggal di rumah penerima, jadi sebagian kami pakai kertas minyak,” jelasnya.

Lebih jauh, Saroh menyebut bahwa penggunaan kertas minyak bukan sepenuhnya keputusan sepihak kader. Ia mengklaim bahwa hal tersebut pernah dibahas bersama pihak dapur.

“Sudah pernah dirembuk. Dari dapur memperbolehkan pakai kertas, asal beli sendiri, tidak disediakan dari dapur,” tandasnya.(*)