MADURA SATU | SAMPANG - Video pendistribusian Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Robatal, Kecamatan Robatal, Kabupaten Sampang, mendadak viral di media sosial dan memicu perdebatan publik, Rabu (1/4/2026).

Rekaman tersebut memperlihatkan proses pembagian makanan kepada kelompok penerima manfaat kategori B3, yakni balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. Namun, yang menjadi sorotan bukan menu makanan, melainkan cara penyajiannya yang dinilai tidak sesuai standar.

Dalam video yang beredar luas, paket MBG berisi nasi, ayam goreng tepung, sayur wortel dan kentang, tahu, serta buah salak. Akan tetapi, makanan itu tampak tidak disajikan menggunakan wadah resmi berupa ompreng, melainkan diletakkan di keranjang, talam, bahkan dibungkus plastik.

Seorang warga yang merekam kejadian tersebut terdengar melontarkan kritik secara langsung.

“MBG cap apa ini? Makanannya tidak pakai ompreng tapi pakai keranjang,” ucapnya dengan nada kecewa dalam video yang viral.

ADVERTISEMENT

Berdasarkan informasi yang dihimpun, distribusi MBG dilakukan di salah satu rumah perangkat desa. Sebelum pembagian berlangsung, petugas disebut meminta warga membawa wadah sendiri untuk menampung makanan yang akan diterima.

Lebih lanjut, makanan yang awalnya dikirim menggunakan ompreng diduga dipindahkan ke wadah lain sebelum akhirnya dibagikan kepada para penerima manfaat. Praktik ini kemudian menuai kritik karena dianggap tidak mencerminkan standar penyajian yang layak.

Salah satu warga setempat, Jufi, mengungkapkan bahwa kejadian tersebut berlangsung pada Selasa (31/3/2026). Ia menilai penyajian makanan tersebut jauh dari standar yang telah ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional.

“Minimal pakai wadah plastik mika biar lebih layak. Jangan asal-asalan seperti ini,” tegas Jufi saat dikonfirmasi, Rabu (1/4/2026).

Ia juga mendesak pihak terkait, khususnya Satgas MBG di Kabupaten Sampang, untuk segera melakukan evaluasi terhadap pengelolaan dapur SPPG At-Taufiq yang bertanggung jawab atas distribusi tersebut.

ADVERTISEMENT

“Harus ada evaluasi, supaya ke depan tidak terulang lagi dan program ini benar-benar bermanfaat sesuai tujuannya,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) At-Taufiq Robatal, Solihin, membantah tudingan bahwa pihaknya melanggar standar operasional prosedur.

“Dari kami pengiriman tetap pakai ompreng sesuai SOP. Soal video itu, itu inisiatif warga sendiri yang memindahkan makanan ke keranjang,” ujarnya.

Solihin menegaskan bahwa pihaknya telah mengikuti aturan terbaru dari Badan Gizi Nasional, di mana seluruh menu MBG harus berupa makanan siap santap dan didistribusikan menggunakan ompreng.

“Kami tidak menyediakan wadah lain selain ompreng. Semua distribusi dari dapur sampai ke kader posyandu tetap menggunakan ompreng,” pungkasnya. (*)

ADVERTISEMENT