MADURA SATU | SAMPANG - Ribuan masyarakat, santri, alumni, serta para ulama memadati kompleks Pondok Pesantren Mansyaul Ulum Congkop, Desa Tlambah, Kecamatan Karang Penang, Kabupaten Sampang, dalam peringatan Haul ke-17 KH Khusni Kholil, Sabtu (7/3/2026).

Kegiatan religius tahunan tersebut menjadi momentum penting bagi keluarga besar pesantren dan masyarakat untuk mengenang jasa para masyayikh sekaligus mendoakan para pendiri lembaga pendidikan Islam tersebut.

Acara yang dimulai sekitar pukul 14.30 WIB itu dipusatkan di halaman utama pesantren. Sejak awal kegiatan, suasana khidmat terasa ketika lantunan ayat suci Al-Qur’an dan selawat menggema di tengah ribuan jamaah yang hadir.

Sejumlah habaib, alim ulama, serta tokoh masyarakat dari berbagai daerah juga tampak hadir, menambah kekhusyukan dalam rangkaian acara yang telah dipersiapkan panitia sejak beberapa pekan sebelumnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Mansyaul Ulum Congkop, Yan As Stauri, menyampaikan bahwa peringatan haul bukan sekadar kegiatan seremonial tahunan, melainkan bentuk penghormatan kepada para ulama yang telah berjasa besar dalam menyebarkan ajaran Islam dan membangun tradisi keilmuan di pesantren.

ADVERTISEMENT

“Melalui haul ini kita tidak hanya mendoakan para pendahulu, tetapi juga menyambung sanad keilmuan dan spiritual dengan para guru yang telah mengabdikan hidupnya untuk dakwah dan pendidikan,” ujarnya.

Pondok Pesantren Mansyaul Ulum sendiri memiliki sejarah panjang dalam pengembangan pendidikan Islam di Madura. Lembaga ini dirintis pada tahun 1960 oleh almarhum KH Husni Kholil yang memulai pengajaran dari sebuah langgar sederhana sebelum berkembang menjadi pesantren yang lebih besar pada tahun 1975.

Rangkaian kegiatan haul diisi dengan pembacaan tahlil dan doa bersama yang ditujukan untuk almarhum KH Husni Kholil serta para tokoh pesantren lainnya. Panitia juga mencatat kehadiran jamaah yang membludak, terutama dari kalangan alumni yang tergabung dalam Ikatan Alumni Al Muallam (IKMAL).

Kehadiran para alumni tersebut menunjukkan kuatnya hubungan batin antara guru dan murid yang tetap terjaga meski para pendidik telah wafat.

Selain sebagai momentum spiritual, kegiatan ini juga menjadi ajang refleksi perjalanan pendidikan di Pondok Pesantren Mansyaul Ulum. Sejak tahun 2021, pesantren tersebut mulai mengembangkan sistem pendidikan formal yang terintegrasi, mulai dari tingkat PAUD, MI, MTs/SMP, MA hingga SMK.

ADVERTISEMENT

Ketua Yayasan Pondok Pesantren Mansyaul Ulum, KH Mohammad Munir, mengatakan bahwa perkembangan lembaga pendidikan itu tidak terlepas dari perjuangan dan keikhlasan para masyayikh terdahulu.

“Peran alumni dan dukungan para wali santri menjadi kekuatan bagi kami untuk terus melanjutkan perjuangan pendidikan, agar mampu melahirkan generasi yang unggul dalam akhlak dan intelektual,” ungkapnya.

“Peran alumni dan dukungan para wali santri menjadi kekuatan bagi kami untuk terus melanjutkan perjuangan pendidikan, agar mampu melahirkan generasi yang unggul dalam akhlak dan intelektual,” ungkapnya.