PT Garam juga melakukan komunikasi dengan Pemerintah Kabupaten Sampang terkait kemungkinan kebutuhan tambahan lahan apabila proyek industrialisasi garam tersebut membutuhkan area yang lebih luas.

"Kami juga sering sowan ke Pak Bupati Sampang agar usaha baik yang berdampak positif bagi ekonomi masyarakat ini bisa terealisasi dengan baik. Selain itu, supaya masyarakat bisa ikut bangga dengan adanya industrialisasi garam di Sampang ini," ucapnya.

Abraham menyebut proses dari tahapan studi hingga penentuan mitra pelaksana proyek diperkirakan membutuhkan waktu sekitar satu tahun. Setelah studi kelayakan selesai, proses akan dilanjutkan dengan penentuan partner sebelum masuk ke tahap pembangunan.

"Sekarang ini masih September dan baru menyelesaikan FS, lalu menentukan partner IPC, baru setelah itu berlanjut ke pembangunan proyek," sebutnya.

Industrialisasi garam yang direncanakan di Sampang nantinya akan menggunakan teknologi Mechanical Vapor Recompression atau MVR. Teknologi tersebut merupakan metode daur ulang energi termal dalam proses produksi.

ADVERTISEMENT

Menurut Abraham, penggunaan teknologi tersebut dapat mengurangi penggunaan energi uap tradisional hingga 70-90 persen. Sistem produksi juga dapat berjalan secara kontinu sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada cuaca dan sinar matahari seperti produksi garam melalui tambak tradisional.

Teknologi MVR juga ditujukan untuk menghasilkan garam dengan tingkat kemurnian tinggi sesuai standar kebutuhan industri. Penggunaan elektrifikasi kompresor disebut dapat mengurangi penggunaan bahan bakar fosil dalam proses produksi.

"Dengan demikian, metodenya berbeda dengan tambak garam tradisional yang selama telah berjalan. Hasil lebih bagus dan produksi lebih banyak," jelasnya.