Perjalanan Nazilla menghafal Al-Qur’an tidak dilalui dengan mudah. Remaja asal Pamekasan itu mengaku sempat menghadapi rasa lelah dan jenuh selama proses menghafal ayat demi ayat.

Namun, niat untuk membahagiakan kedua orang tuanya membuat dirinya tetap bertahan hingga akhir.

“Saya ingin Al-Qur’an ini menjadi mahkota untuk orang tua saya kelak di akhirat dan menjadi cahaya dalam kehidupan saya,” ujar Nazilla.

Ia menegaskan bahwa hafalan Al-Qur’an bukan sekadar pencapaian akademik ataupun kebanggaan pribadi.

Menurutnya, menjaga hafalan berarti menjaga hubungan spiritual dengan firman Allah sepanjang hidup.

ADVERTISEMENT

“Alhamdulillah, ini bukan perjuangan yang mudah. Tapi saya selalu ingat tujuan saya, ingin membahagiakan orang tua dan menjaga Al-Qur’an seumur hidup saya,” katanya dengan suara bergetar.

Nazilla juga menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada keluarga besar serta para guru yang selama ini mendampingi proses belajarnya di pesantren.

“Saya hanya ingin membuat abi dan ummi, keluarga besar kami, serta guru-guru kami bahagia dunia akhirat. Semoga hafalan ini menjadi hadiah terbaik untuk mereka,” tuturnya.