“Kami meminta kepada Willy Aditya untuk mencabut statemen tersebut, meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia, khususnya masyarakat Madura, serta segera mencabut rencana kebijakan berupa alat bantu seks di lapas,” ujar Umar Faruq kepada media, Selasa (6/10/2026).

Umar menegaskan, tiga tuntutan tersebut menjadi sikap IKAP2S dalam merespons wacana yang disampaikan Willy.

Apabila tuntutan tersebut tidak dipenuhi, IKAP2S menyatakan akan melakukan koordinasi dan konsolidasi dengan tokoh ulama serta alumni pesantren untuk menyampaikan penolakan terhadap wacana tersebut.

IKAP2S juga menyebut akan mempertimbangkan pelaporan terhadap Willy Aditya ke Badan Kehormatan DPR RI. Selain itu, persoalan tersebut akan disampaikan kepada Partai NasDem, partai politik yang menaungi Willy.

Tidak berhenti di situ, IKAP2S juga mempertimbangkan aksi massa yang melibatkan komunitas pesantren, khususnya dari Madura dan Jawa Timur.

ADVERTISEMENT

“Kami akan melakukan koordinasi dan konsolidasi dengan para tokoh ulama dan tokoh alumni pesantren untuk menolak usulan tersebut,” terang Umar Faruq yang akrab disapa Gus Faruq.

Gus Faruq mengaku yakin persoalan tersebut akan mendapat perhatian dari kalangan kiai, ulama, dan tokoh pesantren di Madura.

Kritik IKAP2S juga dikaitkan dengan polemik sebelumnya ketika Willy menjadi sorotan setelah rekaman rapat Komisi XIII DPR RI pada 28 September 2026 beredar di media sosial. Dalam rekaman tersebut, Willy terdengar mengucapkan kalimat “bacot kamu” kepada seorang staf.