MADURA SATU | SUMENEP - Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Palotan STAINAS Gapura menggandeng Komunitas Aliansi Media Partner (AMP) menggelar pelatihan Sehari Jurnalistik bertema Jurnalisme Perbankan di Aula KH Zubairi MZ, lantai 2 STAINAS Gapura.

Kegiatan tersebut menghadirkan dua jurnalis senior, yakni Pemimpin Redaksi Dimadura, Moh. Sumardono, serta Pemimpin Redaksi Koran Madura, Syamsuni. Keduanya berbagi pengalaman dan wawasan mengenai perkembangan dunia pers, kaidah jurnalistik, teknik penyusunan berita, hingga metode investigasi dalam peliputan.

Puluhan mahasiswa dari berbagai program studi mengikuti pelatihan itu dengan antusias. Selama kegiatan, peserta memperoleh materi mengenai konsep dasar jurnalistik, karakteristik berita, teknik menggali informasi melalui wawancara, hingga cara menyusun naskah berita menggunakan rumus 5W+1H.

Penyampaian materi dikemas secara komunikatif dengan mengombinasikan teori dan pengalaman lapangan. Pola tersebut membuat peserta tidak hanya memahami konsep jurnalistik, tetapi juga memperoleh gambaran mengenai tantangan profesi wartawan dalam menjalankan tugasnya.

Dalam pemaparannya, Moh. Sumardono atau yang akrab disapa Mazdon menjelaskan bahwa perjalanan dunia jurnalistik tidak lepas dari keberanian para wartawan dalam mengungkap fakta demi kepentingan masyarakat. Ia juga menyinggung kiprah sejumlah jurnalis nasional dan wartawan perang yang tetap bekerja di tengah situasi penuh risiko.

ADVERTISEMENT

Menurutnya, media memiliki tanggung jawab menjalankan fungsi pengawasan terhadap berbagai kebijakan pemerintah, dunia usaha, maupun persoalan publik lainnya. Namun, ia menegaskan bahwa setiap informasi harus dipertimbangkan secara matang sebelum dipublikasikan.

"Ada fakta dan kebenaran tertentu yang belum tentu layak dipublikasikan menjadi berita. Misalnya, tidak mungkin kita memberitakan hal-hal yang justru merugikan atau menjatuhkan almamater sendiri tanpa mempertimbangkan nilai manfaat dan dampaknya," ujarnya, Sabtu (4/7/2026).

Mazdon menekankan bahwa wartawan harus berpegang pada prinsip kejujuran, independensi, objektivitas, serta tanggung jawab. Selain itu, sebuah informasi juga harus memenuhi unsur nilai berita agar layak disajikan kepada publik.

Pada sesi berikutnya, Syamsuni mengulas sejarah perkembangan pers sekaligus menjelaskan etika yang harus dijaga wartawan ketika melakukan peliputan. Ia juga memperkenalkan teknik investigasi yang dapat digunakan untuk menelusuri suatu persoalan secara lebih mendalam, terutama pada isu-isu yang berkaitan dengan sektor perbankan.

Menurutnya, seorang jurnalis tidak cukup hanya melihat sebuah peristiwa dari sisi yang tampak, melainkan harus mampu memahami berbagai unsur yang melatarbelakanginya.

ADVERTISEMENT

"Kita melihat tembok jangan hanya warnanya, tetapi juga harus melihat apa saja yang menyusun tembok itu. Ada batu bata, semen, dan kerja tukang yang menyusunnya," ungkapnya.

Suasana pelatihan berlangsung dinamis. Sesi tanya jawab dimanfaatkan peserta untuk berdiskusi mengenai teknik peliputan, penyusunan berita, hingga tantangan jurnalisme di era digital. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan kepada para narasumber.

Sebagai bentuk penghargaan atas partisipasi aktif selama pelatihan, panitia menyerahkan hadiah kepada peserta terbaik di akhir kegiatan.

Pengasuh Pondok Pesantren Nasy'atul Muta'allimin, KH A. Dardiri Zubairi, melalui Ketua LPM Palotan Ahmad Alan Romdani, berharap pelatihan tersebut menjadi wadah untuk meningkatkan kemampuan literasi mahasiswa sekaligus menanamkan nilai-nilai etika dalam praktik jurnalistik.

"Melalui kegiatan ini, kami berharap lahir lebih banyak mahasiswa yang memiliki keberanian, kepekaan sosial, dan menjunjung tinggi etika jurnalistik dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat," kata Ahmad Alan Romdani. (*)

ADVERTISEMENT