Pada sesi berikutnya, Syamsuni mengulas sejarah perkembangan pers sekaligus menjelaskan etika yang harus dijaga wartawan ketika melakukan peliputan. Ia juga memperkenalkan teknik investigasi yang dapat digunakan untuk menelusuri suatu persoalan secara lebih mendalam, terutama pada isu-isu yang berkaitan dengan sektor perbankan.

Menurutnya, seorang jurnalis tidak cukup hanya melihat sebuah peristiwa dari sisi yang tampak, melainkan harus mampu memahami berbagai unsur yang melatarbelakanginya.

"Kita melihat tembok jangan hanya warnanya, tetapi juga harus melihat apa saja yang menyusun tembok itu. Ada batu bata, semen, dan kerja tukang yang menyusunnya," ungkapnya.

Suasana pelatihan berlangsung dinamis. Sesi tanya jawab dimanfaatkan peserta untuk berdiskusi mengenai teknik peliputan, penyusunan berita, hingga tantangan jurnalisme di era digital. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan kepada para narasumber.

Sebagai bentuk penghargaan atas partisipasi aktif selama pelatihan, panitia menyerahkan hadiah kepada peserta terbaik di akhir kegiatan.

ADVERTISEMENT

Pengasuh Pondok Pesantren Nasy'atul Muta'allimin, KH A. Dardiri Zubairi, melalui Ketua LPM Palotan Ahmad Alan Romdani, berharap pelatihan tersebut menjadi wadah untuk meningkatkan kemampuan literasi mahasiswa sekaligus menanamkan nilai-nilai etika dalam praktik jurnalistik.

"Melalui kegiatan ini, kami berharap lahir lebih banyak mahasiswa yang memiliki keberanian, kepekaan sosial, dan menjunjung tinggi etika jurnalistik dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat," kata Ahmad Alan Romdani. (*)