MADURA SATU | PAMEKASAN – Anggota Komisi VIII DPR RI, Hj. Ansari, menegaskan bahwa pembentukan karakter anak tidak cukup dilakukan melalui penyampaian materi pelajaran semata.

Menurutnya, pendidikan karakter membutuhkan sentuhan, keteladanan, serta kasih sayang dari seorang guru.

Pernyataan tersebut disampaikan saat menjadi pemateri dalam kegiatan Upgrading Fasilitator Sekolah Alam Excellentia (SAE) Pamekasan yang digelar di Lawangan Daya, Kecamatan Pademawu, Jumat (7/8/2026).

Politisi Fraksi PDI Perjuangan dari Daerah Pemilihan Jawa Timur XI Madura itu mengajak para pendidik untuk menjadikan pendidikan karakter sebagai fondasi utama dalam mendampingi tumbuh kembang anak sejak usia dini.

Menurut Hj. Ansari, peran guru jauh lebih besar daripada sekadar mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung. Guru juga memiliki tanggung jawab membentuk kepribadian sekaligus masa depan peserta didik.

ADVERTISEMENT

"Ilmu sekarang bisa diakses dari mana saja, bahkan lewat gawai. Tetapi tatapan mata guru, pegangan tangan, pelukan, perhatian, dan kata-kata yang menguatkan tidak akan pernah bisa digantikan oleh mesin atau robot. Itulah yang membentuk karakter anak," ujarnya.

Ia menjelaskan, setiap anak memiliki karakter, kemampuan, dan cara belajar yang berbeda. Karena itu, guru diminta tidak mudah memberikan stigma atau label negatif kepada peserta didik.

"Tidak ada anak yang nakal. Yang ada adalah anak yang aktif, komunikatif, dan memiliki cara belajar yang berbeda. Setiap anak adalah pribadi yang spesial bagi orang tuanya. Tugas guru adalah menemukan potensi itu dengan kasih sayang dan kesabaran," katanya.

Hj. Ansari menilai seluruh peserta didik harus mendapatkan kasih sayang yang sama dari guru, meskipun pendekatan yang diterapkan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak.

Dalam pemaparannya, alumnus Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan itu juga menekankan bahwa pendidikan karakter paling efektif dibangun sejak jenjang pendidikan usia dini, mulai dari Tempat Penitipan Anak (TPA), Kelompok Bermain (KB), hingga Taman Kanak-kanak (TK).

ADVERTISEMENT

"Penentu karakter itu dimulai sejak TPA, KB, dan TK. Ketika anak masuk SD dengan karakter yang baik, itu merupakan hasil kerja keras guru-guru pendidikan usia dini yang telah meletakkan fondasi kepribadiannya," ungkapnya.

Menurut Hj. Ansari, pendidikan karakter tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada sekolah. Diperlukan kolaborasi yang erat antara guru dan orang tua agar anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, berakhlak, dan memiliki mental yang kuat.

"Sekolah dan orang tua harus berjalan bersama. Anak tidak hanya membutuhkan ilmu, tetapi juga doa, perhatian, keteladanan, dan lingkungan yang mendukung agar tumbuh menjadi generasi yang berkarakter dan membanggakan bangsa," tutup Hj. Ansari. (*)