“Ini adalah acara kita bersama. Meski waktunya ditentukan mendadak, alhamdulillah berjalan lancar. Kita berkumpul dan berpisah karena Allah, tidak membahas politik atau kepentingan apapun,” tegasnya.

Menurutnya, pendekatan budaya dipilih karena lebih membumi dan mampu menjadi sarana menjaga tradisi lokal agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.

“Budaya ini milik kita bersama. Harapannya bisa menjadi pengikat kebersamaan untuk membangun Pamekasan,” tuturnya.

Ketua panitia, Farid Afandi, menambahkan bahwa kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga upaya konkret menghidupkan kembali budaya Macapat Samman yang mulai jarang ditampilkan.

“Kami ingin mempererat silaturahmi sekaligus menghidupkan kembali budaya yang mulai jarang ditampilkan,” ungkap Farid.

ADVERTISEMENT

Ia berharap kegiatan serupa dapat digelar secara rutin setiap dua bulan sekali dengan lokasi bergilir di setiap kecamatan di Pamekasan.

Perwakilan kepala desa, Pahrianto, menilai kekompakan antar-kades menjadi faktor penting dalam menyelesaikan berbagai persoalan di tingkat desa.

“Kalau kades kompak, saya yakin semua bisa dilewati,” katanya.